Laman

Selasa, 23 Mei 2017

Cuaca Ekstrem Berdampak Buruk Terkena Meningitis

Cuaca ekstrem, cuaca ekstrem yang terjadi di Indonesia merupakan salah satu dampak dari adanya perubahan iklim global. Dengan kondisi tersebut yang akan berdampak buruk terhadap kesehatan pada seseorang, khususnya penyakit yang dapat menular dengan melalui media udara, air, serangga nyamuk, dan dari makanan maupun melalui hal lainnya.

Cuaca Ekstrem Berdampak Buruk Terkena Meningitis

Guru Besar dari Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Universitas Indonesia (UI) Prof dr Umar Fahmi Ahmadi menerangkan, bahwa adanya perubahan iklim dengan cuaca ekstrem akan berdampak terhadap semakin meningkatnya tingkat ultraviolet dan heat stresscuaca yang pada akhirnya akan berefek langsung pada penurunan sistem imunitas tubuh manusia dan penuaan yang terjadi akibat kerusakan pada kulit.

”Ada juga hal lainnya yang dapat mempengaruhi yakni cuaca ekstrem juga dapat mengakibatkan adanya bencana alam, seperti banjir dan rob di pantai kota urban dan di wilayah pantai utara, juga menjadi penyebab semakin mudahnya penyebaran penyakit yang dapat ditularkan dengan melalui media air yang sudah terkontaminasi dengan makanan. Seperti penyakit  diare, antraks, leptospirosis, kolera, hanta virus dan typus,” ungkapnya.

Pada saat Umar berbicara dalam forum yang sudah lama diadakan dalam program Aku Anak Sehat 2010 yang digelar oleh Tupperware. Turut hadir juga pada acara tersebut yakni Marketing Director Tupperware Indonesia Yanty Melianty dan Direktur Sekolah Global Mandiri Cibubur Rifa Ariani SE Ak. Pria yang akrab dipanggil dengan sebutan UFA (Umar Fahmi Ahmadi) juga merupakan Mantan Direktur Jenderal Pemberantasan Penyakit Menular dan Penyehatan Lingkungan Departemen Kesehatan RI menambahkan, khusus dari dampak adanya pemanasan global yang berakibat pada terjadinya kekeringan akan mengakibatkan kelangkaan sumber air dan ketersediaan pangan yang sangat dibutuhkan untuk kebutuhan hidup sehari-hari.

Apabila dalam kondisi yang seperti itu terjadi, maka akan meningkatkan potensi penyakit infeksi pada pencernaan, sanitasi dasar, diare, kontaminasi makanan oleh berbagai penyakit yang ada. Misalnya saja terkena virus typus atau pes akibat dari tangan yang tidak sehat. Ada satu hal yang wajib untuk dicermati dengan kondisi perubahan iklim yang terjadi saat ini, yakni adanya penyakit yang ditularkan dengan melalui nyamuk (vector borne diseases) semakin meningkat dan beragam jenisnya. Misalnya seperti penyakit demam berdarah dengue (DBD), chikungunya, Japanese Encephalitis (akibatkan radang otak), filariasis (kaki gajah), dan juga malaria.
”Selain itu juga, karena adanya peningkatan potensi terjadinya penyakit yang dapat ditularkan dengan melalui udara seperti infeksi saluran pernafasan dan pneumonia,” kata UFA. 

Adanya peningkatan penyakit akibat penularan dengan melalui nyamuk yang terjadi akibat pemanasan global yang dimungkinkan terjadi karena bionomik nyamuk berubah. Misalnya saja seperti nyamuk menjadi lebih menakutkan, frekuensi gigitan nyamuk yang semakin meningkat, keinginan kopulasi-reproduksi larva (jentik) nyamuk akan terus meningkat.

”Begitu juga populasinya yang semakin meningkat. Parasit akan menjadi lebih cepat matang. Adaptasi nyamuk bahkan menyebabkan umur nyamuk akan semakin panjang dan akan tinggal pada populasi dan biting rate yang meningkat,” kata UFA yang juga pengajar visit di Griffith University Queensland Australia sejak tahun 2000. 

“Apabila nanti terjadinya peningkatan populasi nyamuk berkorelasi kuat dengan kondisi sanitasi air yang ada dalam satu wilayah yang sama. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Kementerian Lingkungan Hidup (LH) di Indonesia pada tahun 2003 lalu diketahui potret sanitasi air telah menunjukkan banyak rumah tangga di Indonesia yang memiliki sumber air (sumur atau pompa) yang jaraknya itu sangat berdekatan dengan tangki septik (pembuangan kotoran), yakni hanya berjarak 10 meter saja,” ujar UFA.

Kondisi yang demikian dapat menyebabkan sumber air minum rawan akan tercemar bakteri ataupun bahan kimia yang berbahaya. Bila sumber airnya sudah tercemar, secara otomatis akan berpengaruh juga pada hasil makanan olahan yang dibuat dengan menggunakan sumber air tersebut yang sudah tercemar. Selain itu juga, faktor pengolahan dan penyimpanan yang kurang memperhatikan faktor higienis,” tuturnya.

Lebih lanjut UFA juga mengungkapkan, penyebab kematian bagi anak-anak di usia 1–4 tahun adalah disebabkan oleh necroticans entero collitis (NEC) atau dikenal dengan penyakit radang paru (pneumonia) yakni sudah tercatat 10,7 persen. Untuk urutan kedua yakni akibat meningitis atau ensefalitis tercatat 8,8 persen, ketiga kematian anak yang disebabkan oleh demam berdarah dengue (DBD) 6,8 persen, tenggelam 4,9 persen, campak 5,8 persen dan tuberkulosis (TB) yang tercatat 3,9 persen.

“Untuk dapat mengatasi atau paling tidak mengurangi dampak buruk yang akan terjadi kapan saja perlu dilakukan pencegahan. Pencegahan yang dapat dilakukan dengan cara, yakni dengan melakukan upaya mitigasi terhadap sumber pencemaran itu sendiri dan upaya pencegahan secara langsung dengan melakukan adaptasi bila terjadi kondisi yang dapat mengancam kesehatan. Juga sangat diperlukan upaya konkret dalam melakukan pencegahan atas perilaku pencemaran udara. Misalnya efek rumah kaca yang dapat menyebabkan pemanasan global, penggunaan energi yang tidak efektif dan efisien, carbon sink dan carbon trade,” jelas UFA.

”Hal yang terpenting adalah masyarakat proaktif untuk melakukan partisipasi dalam pengendalian penyakit menular yang disebabkan oleh gigitan nyamuk (vector). Gunakan cara sederhananya saja yakni dengan membersihkan daerah-daerah yang berpotensi menjadi perindukan nyamuk. Contohnya ban bekas, botol, sangkar burung, dan saluran got juga genangan air,” tutupnya.