Laman

Kamis, 29 Juni 2017

Ada Amuba Mematikan Pemakan Otak

Ada amuba mematikan, Yang dimaksud dengan Amoebic Meningoencephalitis (PAM) yaitu salah satu jenis penyakit meningitis yang mematikan. Penyebabnya itu berasal dari amuba yang bernama Naegleria fowleri. Amuba tersebut dapat menyerang dan memakan otak korban. Organisme yang memiliki sel tunggal tersebut hidup dalam air temperatur hangat. Terjadinya Infeksi Naegleria fowleri atau biasa dikenal sebagai amuba pemakan otak memang jarang sekali terjadi. Namun, untuk tingkat kematian akibat PAM tersebut, menurut keterangan dr Grace EPM Sianturi SpBS, cukup besar. Sebelumnya kasus ini, sudah pernah ditemukan di sebuah Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Abdul Wahab Sjahranie (AWS), Samarinda.

Ada Amuba Mematikan Pemakan Otak

“Dimana Kasus ini masih terbilang langka, tetapi tidak ada salahnya jika masyarakat perlu mengetahui lebih jelas penyebabnya bahwa ada amuba mematikan. Amuba pemakan otak, bisa saja menginfeksi siapa saja yang sedang berenang. Pada saat itu pula, air yang sudah terkontaminasi masuk ke dalam tubuh seseorang, masuknya dengan melalui hidung,” terang dokter spesialis bedah saraf di RSUD AWS tersebut.

Ternyata ada amuba mematikan, dengan cara amuba masuk  melalui hidung, lalu menuju ke otak. Sedikit demi sedikit secara perlahan tetapi pasti dan cepat, amuba dapat menggerogoti sistem saraf pusat di otak. Namun, lanjut Grace, belum dapat dipastikan semua orang yang melakukan renang dapat terserang PAM. Ada berbagai faktor lain yang dapat memengaruhi.

”Misalnya, pada saat berenang daya tahan tubuh yang dimiliki seseorang seseorang memang sedang tidak baik (sakit). Sedang stres atau kadar klorin pada saat di dalam kolam renang berada di bawah normal,” ucapnya. Sedangkan, untuk masa inkubasi Naegleria fowleri, menurut seorang perempuan yang kelahiran Samarinda, pada 1 September 1980 ini ada sekitar 7-12 hari. Dalam masa rentan waktu, setelah amuba sudah masuk ke dalam tubuh, akan timbul beberapa gejala yang dirasakan pada seseorang. Seperti nyeri kepala (sakit kepala), leher terasa kaku dan berat, batuk juga flu.

Gejala yang ditimbulkan seperti demam biasa, oleh karena itu banyak yang terlambat mengetahui kalau itu sebenarnya merupakan gejala dari PAM. Sehingga keadaan pasien akan semakin memburuk. Dimbah mengalami halusinasi, koma, hingga pada akhirnya meninggal,” terang alumnus spesialis bedah saraf Universitas Padjadjaran, Bandung tersebut.

Grace memaparkan, bahwa meningitis pada hakikatnya bisa saja disembuhkan. Asalkan penanganan yang dilakukan tidak terlambat. Untuk diagnosis awal harus tepat, memberikan penentuan apakah terjangkit meningitis tersebut disebabkan bakteri, virus, atau lainnya. Begitu juga dengan meningitis yang disebabkan oleh Naegleria fowleri. “Jika dengan menggunakan serangkaian tes laboratorium yang ada, LCS, lumbal fungsi, dan lainnya dipastikan itu PAM, pasien bisa diberikan Amfoterisin B. Namun, apabila seorang pasien sudah tidak sadarkan diri, mengalami kejang-kejang, diperlukan terapi dan monitoring ketat terhadap pasien,” papar perempuan berkacamata tersebut.