Laman

Jumat, 30 Juni 2017

Dalam Hitungan Jam Meningitis Bisa Mematikan

Dalam hitungan jam, penyakit radang selaput otak atau basa dikenal dengan sebutan meningitis merupakan penyakit yang sangat mematikan karena mampu membunuh penderita dengan hanya hitungan jam dalam 24-48 jam sejak munculnya gejala yang ditimbulkan. Kalaupun dapat diselamatkan, risiko lain yang harus ditanggung oleh penderita adalah cacat permanen pada susunan saraf di otak. Dalam beberapa kasus yang ada, pasien yang menderita meningitis baru dibawa ke rumah sakit setelah muncul gejala. Gejala yang spesifik pada meningitis adalah kaku kuduk, yakni merasakan sakit pada leher jika harus menundukkan kepala sehingga kepala harus selalu berada dalam posisi menengadah.

Dalam Hitungan Jam Meningitis Bisa Mematikan

Adapun gejala lain yang ditimbulkan seperti yang telah disampaikan oleh Head of Medical Affairs for Europe Region - Novartis Vaccine, Prof Heinz Josef Schmitt adalah didapati bercak kemerahan, terutama jika dikarenakan adanya infeksi bakteri. Jauh berbeda dengan gigitan nyamuk, bercak yang terjadi pada meningitis tidak hilang meski ditarik juga ditekan dengan gelas atau dengan berbagai cara. Dalam hitungan jam meningitis dapat mematikan si penderita.

"Gejala yang paling khas ditimbulkan pada meningitis adalah kaku kuduk dan bercak yang sangat sulit dihilangkan. Namun sayang, gejala yang seperti itu biasanya muncul terlambat sehingga dalam hitungan jam meningitis dapat membahayakan hingga mematikan," papar Prof Schmitt.

Prof Heinz menuturkan, bahwa langkah yang paling tepat untuk diambil guna menekan tingkat kematian akibat meningitis adalah dengan melakukan pemberian vaksin meningitis sesuai dengan penyebabnya. Adapun beberapa jenis vaksin meningitis yang perlu diberikan sejak kecil karena anak-anak paling rentan sekali terkena meningitis.

Banyak berbagai macam penyebab meningitis yang terjadi, salah satunya adalah infeksi bakteri Neisseria meningitidis. Bakteri yang timbul tersebut merupakan kuman endemik di negara-negara Afrika sub-Sahara dan beberapa wilayah yang ada di Benua Amerika, namun belum pernah menjadi endemik di Indonesia ini, berharap tidak sampai terjadi disini.

Di Negara Indonesia ini, risiko tertinggi ialah terkena meningitis meningococus atau meningitis akibat infeksi bakteri hanya dialami oleh orang-orang yang bepergian ke negara-negara endemis. Hal tersebut juga dapat terjadi pada Jamaah haji dan itu berisiko tinggi karena berkumpul dalam waktu lama dengan orang-orang yang berasal dari daerah endemis.

Anak-anak tidak perlu lagi mendapat vaksin untuk meningitis meningococus kecuali jika anak tersebut diajak bepergian ke daerah endemis. Vaksin tersebut biasanya hanya diberikan pada calon jamaah haji atau umrah, calon tenaga kerja, militer ataupun untuk siapa saja yang akan bepergian jauh dalam waktu yang lama menuju daerah endemis.

Perlu diketahui juga bahwa ada penyebab meningitis lainnya yang lebih rentan terjadi di Indonesia yaitu infeksi bakteri Haemophilus influenzae type B (HIB). Anak-anak yang merupakan masuk dalam kelompok yang rentan terkena meningitis HIB, sehingga sangat penting untuk diberikan kepada anak sejak usia 2 bulan.

Hingga saat ini, pemberian vaksin meningitis HIB belum termasuk dalam vaksin yang diwajibkan oleh pemerintah Indonesia. Walaupun demikian Kepala Komite Penasehat Ahli Imunisasi Nasional, Prof Dr dr Sri Rezeki Hadinegoro, SpA(K) sangat menganjurkan sekali untuk pemberian vaksin ini. "Supaya lebih terjangkau lagi, vaksin ini dijadikan satu dengan vaksin BCG yang harganya itu berkisar Rp 150-175 ribu," tutur Prof Sri Rezeki.