Laman

Tampilkan postingan dengan label Harus. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Harus. Tampilkan semua postingan

Selasa, 24 Oktober 2017

Penggunaan Antibiotik Harus Anjuran Dokter

Antibiotik harus anjuran dokter, antibiotik sering kali penggunaannya dianggap sebagai obat pemungkas, termasuk bagi masyarakat yang ada di negara-negara maju seperti di Inggris. Memang benar, untuk dapat mengobati infeksi bakteri yang cukup serius, sepeti meningitis, pneumonia dan keracunan darah (sepsis dan septicemia) penggunaan antibiotik sudah tidak bisa ditawar-tawar lagi. Namun, dengan banyak kesempatan yang ada, ternyata antibiotik juga sering sekali digunakan untuk mengobati penyakit seperti batuk, sakit telinga maupun radang tenggorokan yang sebenarnya dapat sembuh dengan sendirinya tanpa harus menggunakan antibiotik.

Penggunaan Antibiotik Harus Anjuran Dokter

Sementara itu, antibiotik dapat mengatasi infeksi meningitis selain dengan cara imunisasi. Dalam penyalahgunaan antibiotik ini akan menyebabkan resistensi, sehingga obat-batan tersebut tidak dapat lagi digunakan untuk menyembuhkan peyakit. Ada sekitar 5.000 orang di Inggris yang meninggal dunia di setiap tahunnya, akibat antibiotik tidak dapat lagi menyembuhkan penyakit akibat dari bakteri. Empat dari 10 kasus yang terjadi karena infeksi E.coli dalam darah tidak dapat disembuhkan lagi dengan antibiotik biasa. Penggunaan antibiotik harus anjuran dokter. Oleh sebab itu, dari para ahli memperkirakan bahwa resistensi antibiotik akan membunuh lebih banyak orang daripada gabungan penyakit kanker dan diabetes dalam waktu hanya 30 tahun.

Kepala Petugas Medis di Inggris yakni Profesor Dame Sally Davies mengatakan, bahwa telah memperingatkan bahwa resistensi ini akan membuat pembedahan-pembedahan, sama halnya seperti operasi Caesar atau perawatan penyakit kanker, akan menjadi berisiko tinggi, bahkan bukan hal yang yang tidak mungkin mengarah pada akhir dari pengobatan modern. Antibiotik harus anjuran dokter tidak sembarang minum.

Oleh sebab itu, dari Departemen Kesehatan Inggris baru-baru ini mengadakan kampanye ‘Keep Antibiotics Working’, kampanye yang berlangsung selama delapan minggu ini, dengan tujuan untuk memperingatkan kepada masyarakat bahwa mengkonsumsi obat-obatan yang tidak dibutuhkan akan menempatkan dirinya sendiri pada infeksi yang lebih parah dan lebih lama lagi, seperti infeksi meningitis.

Kampanye tersebut juga akan disiarkan dengan melalui media televisi dan berbagai selebaran ini, untuk mengingatkan masyarakat umum untuk menggunakan antibiotik karena memang disarankan langsung oleh dokter, tidak menyimpan berbagai macam obat-obatan untuk dapat digunakan sewaktu-waktu, tidak berbagi obat dengan orang lain dan mempercayai dokter ketika mereka mengatakan bahwa antbiotik tidak dibutuhkan.

Depatemen Inggris yakni Profesor Paul Cosord memaparkan, bahwa pada BBC pada umumnya kita tidak membutuhkan antibiotik. “Untuk umumnya penyakit yang menyerang akan sembuh dengan sendirinya karena kekebalan tubuh kita sendiri,” imbuhnya.

Pasien yang memeriksakan kesehatannya seharusnya tidak mengharapkan diberi antibiotik dari dokter. Profesor Cosford justru menyarankan agar para pasien harus lebih banyak beristirahat, mengonsumsi cairan dan apabila dibutuhkan, menggunakan paracetamol untuk dapat menurunkan demam dan menghilangkan rasa nyeri.

“Bila antibiotik benar-benar dibutuhkan, pastinya dokter akan memberi tahu dan menganjurkannya,” lanjut profesor Cosford.

Salah seorang dokter dari University College London Hospitals yakni Dokter Chris Van Tulleken menerangkan, bahwa pekerjaaannya itu membuatnya dapat menyaksikan sendiri apa yang akan terjadi ketika antibiotik tidak bekerja. “Sangat Menakutkan sekali,” ungkapnya. “Antibiotik bukan hanya penting untuk mengobati infeksi serius saja, tetapi juga dibutuhkan sekali untuk melengkapi pegobatan lainnya, seperti halanya untuk melakukan kemoterapi.”

Lanjut dokter Van Tulleken menjelaskan bahwa masyarakat umum juga memiliki peran penting untuk dapat mengatasi masalah resistensi antibiotik. Sebagai dokter kita sering kali diminta resep untuk membuatkan resep antibiotik oleh pasienya sendiri, yang berpikir bahwa mereka akan sembuh dengan menggunakan antibiotik. Padahal kenyataan yang sebenarnya adalah bahwa antibiotik tidak selalu dibutuhkan oleh tubuh meski dalam keadaan sakit sekalipun.

Senin, 28 Agustus 2017

Bocah 2 tahun Harus Diamputasi Karena Meningitis

Diamputasi karena meningitis, Banyak beberapa penyakit yang memiliki risiko kematian yang besar. Sebut saja masalah jantung atau yang berhubungan dengan otak. Tidak hanya itu saja, ternyata penyakit meningitis juga masuk di dalam kategori tersebut. Begitu juga yang dialami oleh anak yang berusia 2 tahun dari Hereford. Sudah diprediksi usianya tidak akan lama lagi. Namun dengan begitu anak laki-laki ini membuktikan kepada kedua orangtuanya bahwa dirinya mampu untuk sehat kembali hingga sedia kala. Namun, ada yang wajib dibayar untuk tetap menyelamatkan hidup Finley Amos. Dimana dirinya harus kehilangan kedua kaki dan tangannya untuk tetap bisa sehat dan melawan meningitis yang ada di dalam tubuhnya tersebut.

Penurunan Hidung Dapat Membantu Cegah Meningitis

Anak itu harus diamputasi karena meningitis. Setelah melakukan amputasi, Finley pun dapat kembali pulang ke rumah. Senyum bahagia pun yang terpancar menjadi kado terindah yang dirasakan kedua orangtua Finley. Seperti yang telah diceritakan Matt Amos, sang ayah. Saat Finley bangun dari perjalanan panjang operasi pengangkatan tangan dan kakinya, bocah tersebut langsung memberikan senyumnya kepada ayahnya itu. Memberikan tanda bahwa dia baik-baik saja dan siap untuk kembali menjalani kehidupannya.

’’Senyuman yang diberikan Finley sangat berarti bagi saya. Semangat Finley setelah diamputasi karena meningitis yang ditunjukkan akhirnya dapat menguatkan kami sebagai orangtuanya, untuk terus membesarkan dia. Saya sangat bangga sekali pada dirinya,’’ ungkapnya.

Pada sebelumnya, Matt Amos bersama istrinya, Sarah Bonner, membawa anak mereka ke spesialis anak dengan diagnosis sementara adalah tonsilitis. Setelah pemeriksaan lebih lanjutnya lagi, ternyata Finley mengidp penyakit meningitis. Tidak hanya itu saja, Finley juga ternyata terjangkit septikemia atau adanya bakteri jahat yang terdapat di dalam darah pada tubuhnya.

Kemudian, harapan Matt dan Sarah pun akhirnya pupus. Mereka sepertinya hanya dapat menjaga Finley selama 2 tahun. Tetapi, dokter yang menangani Finley memberikan tawaran dengan lakukan operasi sebagai bentuk penyelamatan nyawa Finley. Operasi yang dilakukan itu adalah pengangkatan kedua tangan dan kaki Finley. Dengan menggunakan alasan yang logis, Matt pun menyetujui hal itu. Akhirnya Finley pun diamputasi.

Setelah operasi dilakukan, Matt yang berada di samping Finley pun dikagetkan dengan bangunnya bocah laki-lakinya itu. Sambil tersenyum sambil menatap wajah Matt dengan penuh harapan dan semangat hidup kembali.

’’Setelah kejadian hal itu, saya tidak berhenti menangis selama seminggu penuh,’’terangnya. Adapun hal yang membuat Matt semakin sedih, lanjutnya, ialah ketika Finley tetap semangat meski kedua tangan dan kakinya telah hilang.

’’Saya melihat dengan jelas bagaimana ekspresi Finley saat dirinya mengetahui bahwa keadaannya kini sudah tidak lagi memiliki kaki dan tangan. Finley tetap tersenyum dan tidak terlihat ekspresi kesedihan di sana. Itu yang membuat saya semakin bangga padanya,’’ sambung Matt. baca juga >> umroh november ; umroh november 2018

Perlu Anda ketahui bahwa, Finley telah menghabiskan waktunya itu kurang lebih 13 hari di Stoke University Hospital. Selain itu juga, Finley telah mendapatkan perawatan kesehatan dari Rumah Sakit Anak Birmingham Mr Amos.