Laman

Kamis, 13 April 2017

CJH Ditarik Bayaran Untuk Vaksin Meningitis

CJH ditarik bayaran untuk vaksin meningitis. Komisi IX DPR RI mempertanyakan atas implementasi dari Peraturan menteri kesehatan (permenkes) Nomor 15 Tahun 2016, tentang pemeriksaan dan pembinaan kesehatan haji. Pasalnya, banyaknya calon jamaah haji (CHJ) yang diminta untuk melakukan pembayaran dengan sejumlah uang untuk pemeriksaan kesehatan haji mereka.



CJH Ditarik Bayaran Untuk Vaksin Meningitis



Salah satunya yakni, untuk melakukan suntik vaksin meningitis. Okky Asokawati yang merupakan Anggota Komisi IX membeberkan hingga saat ini masih saja mendapat laporan soal penarikan biaya untuk suntik wajib sebelum ke Tanah Suci ini. Belum lagi, himbauan untuk medical check up dengan harga yang selangit. Semua itu secara tidak langsung sangat membebani mereka, kalau CJH ditarik bayaran untuk vaksin meningitis.

”Padahal sudah ada aturannya dalam permenkes dijelaskan bahwa jamaah yang sudah terdaftar JKN akan mendapatkan pelayanan yang komprehensif, bukan CJH ditarik bayaran untuk vaksin meningitis. Lalu pelayanan yang seperti apa yang dimaksud? Apa ini memang tidak ditanggung soal vaksin meningitis?” jelasnya.

Politisi Partai Persatuan Pembangunan (PPP) itu juga turut mempertanyakan hal tersebut, apakah jaminan kesehatan JKN tersebut berlaku pula untuk CJH yang akan melakukan perjalanan ke tanah suci, saat sudah berada di negara transit atau Arab Saudi. Sebab, masih banyak diantara mereka yang mengaku disodorkan tarif usai melakukan pengobatan di rumah sakit di Saudi.

Merespon hal yang seperti ini, Menteri Kesehatan (Menkes) telah menjamin, bahwa untuk pembiayaan kesehatan CJH peserta JKN akan ditanggung penuh. Termasuk di dalamnya itu melakukan suntik meningitis. Hal tersebut dapat terpenuhi bila yang bersangkutan sudah memenuhi prosedur dengan baik, yakni melakukan pemeriksaan kesehatan mulai dari puskesmas hingga kemudian dirujuk untuk suntik di RS yang sudah di rujukan.

”Sedangkan, Kalau untuk medical check up kita tidak mensyaratkan. Yang ada pemeriksaan kesehatan di puskesmas dan ini kita sarankan agar dilakukan sejak jauh-jauh hari. Sehingga, bagi yang memiliki risiko tinggi bisa diantisipasi dari awal waktu dan tidak berdekatan dengan waktu pemberangkatan,” ungkapnya.

Hal yang serupa juga ditekankan olehnya pada saat melakukan pengobatan di Saudi. Dia menerangkan, pemerintah Indonesia juga telah bekerja sama dengan pemerintah Saudi terkait dengan kesehatan jamaah haji. Biaya mereka yang berobat atau dirawat saat berada di sana akan ditanggung sepenuhnya. ”Asal berobatnya di RS pemerintah. Tapi masih sering terjadi, ada jamaah haji yang datang untuk berobat ke RS swasta dan itu dilakukan tanpa sepengetahuan dari tenaga kesehatan kita,” tuturnya.

Dalam kesempatan sela waktu tersebut, Menkes turut menyampaikan rencana pelayanan kesehatan haji pada tahun 2017 ini. Ada juga beberapa poin yang disampaikan olehnya, salah satunya terkait dengan penambahan tenaga kesehatan. Rencananya, akan ada penambahan sekitar 545 tenaga kesehatan haji yang bertugas.

Penambahan ini terjadi seiring dengan jumlah kloter yang dilayani untuk tahun ini semakin bertambah. Dari jumlah 384 menjadi 505 kloter,” katanya.

Selain itu pula, lanjut dia, ada juga penambahan untuk tempat tidur di KKHI Mekkah. Dari awalnya, berjumlah 150 tempat tidur kini menjadi 250 tempat tidur. ”Oleh karena itu, kami minta tambahan sebanyak 80 orang tenaga PPIH Arab Saudi dalam bidang kesehatan,” ungkapnya.

Kepala Pusat Kesehatan Haji yakni Mukhtaruddin Mansyur turut menambahkan, terjadi penambahan juga dilakukan untuk TKIH. Ada rencana untuk melakukan penambahan beberapa jumlah tenaga kesehatan di tiap kloter menjadi dua dokter dan tiga perawat.

Penambahan ini dilakukan, kata dia, sebab nantinya hanya ditujukan untuk kloter-kloter dengan jamaah yang resiko tinggi lebih dari 30 persen. Sehingga butuh pengawasan yang lebih bisa maksimal.

”Diperkirakan sudah ada 10 persen dari total kloter atau sekitar 50 kloter yang berisi jamaah yang resiko tinggi lebih dari 30 persen tersebut,” jelasnya. Sementara itu, imbuhnya, bagi kloter reguler masih akan menggunakan skema yang lama yakni dengan menggunakan satu dokter dan dua perawat.
by paket umrah ramadhan