Laman

Jumat, 05 Mei 2017

Meningitis dan Polio Membayangi Jutaan Anak

Meningitis dan polio membayangi jutaan anakSebanyak 8,7 persen anak yang berusia 12–24 bulan yang belum juga mendapat imunisasi dasar yang nantinya akan berpotensi terkena berbagai macam penyakit, mulai dari polio hingga meningitis. Dirjen Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Kementerian Kesehatan yakni, Mohammad Subuh, mengatakan bahwa angka sebanyak 8,7 persen tersebut tidak dapat dianggap remeh begitu saja. “Kondisi seperti ini sangat riskan sekali, anak-anak dapat terancam tidak terlindungi dari PD3I (penyakit-penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi),” jelas dia. Seperti yang sudah diketahui, penyakit yang masuk dalam PD3I, yaitu polio, hepatitis B, campak, tetanus, difteri, pertusis (batuk rejan), rubella, pneumonia, dan meningitis.

Meningitis dan Polio Membayangi Jutaan Anak

PD3I itu sendiri sangat memengaruhi atas proses terhadap tumbuh kembang anak dan dapat berdampak pada kualitas kesehatan di hari tua nanti, Meningitis dan Polio Membayangi Jutaan Anak.“Oleh karena itu, pentingnya peran orang tua untuk memberikan imunisasi dasar kepada anak-anaknya sejak dilahirkan hingga usia 2 tahun,” tegasnya. Ia menjelaskan, masih ada sejumlah anak yang tidak terimunisasi karena belum tuntasnya perdebatan antara haram dan halal atas penggunaan vaksin di tengah masyarakat ini. Kondisi seperti itu yang membuat sebagian orang tua lebih memilih untuk tidak memberi vaksinasi pada anaknya.

Kepala Sub-Direktorat Imunisasi Direktorat Surveilans, Imunisasi dan Karantina Kesehatan Kementerian Kesehatan yakni, Prima Yosephine, turut menambahkan selain dari masalah perdebatan haram dan halal, Meningitis dan Polio Membayangi Jutaan Anak adapun alasan lain yang menyebabkan orang tua tidak melakukan imunisasi pada anaknya yaitu orang tua tidak menginginkan efeknya setelah itu, seperti demam atau sakit pascaimunisasi, faktor budaya dan agama, serta ketidaktahuan para orang tua terhadap kewajiban vaksin. Kementerian Kesehatan sendiri akan menargetkan pada tahun 2017 ini akan ada kenaikan 5 persen pada kabupaten/kota yang mencapai 80 persen melakukan imunisasi dasar lengkap, dari yang sebelumnya hanya 80,4 persen menjadi 85 persen.

“Sedangkan, untuk target pada anak usia 0–11 bulan yang dapat imunisasi dasar lengkap naik menjadi 92 persen dari 91,6 persen pada 2016 lalu,” tandasnya.

Pendekatan Agama

Ketua Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) yakni, Asrorun Ni’am Sholeh, menilai dengan kondisi tersebut yang sudah diketahui harus segera ditangani secara serius, terutama kepada pemerintah agar lebih gencar lagi untuk mengambil tindakan cepat dalam melakukan terobosan dengan sosialisasi, termasuk dengan memberikan penjelasan yang menggunakan pendekatan agama.

“Sebab pada sebagian masyarakat ini, perkataan ulama tentang medis justru lebih didengar oleh masyarakat dibanding dokter. Karena imunisasi itu merupakan hak anak yang wajib mereka dapati atas perlindungan kesehatan dirinya,” tutur Asrorun. Selama ini, upaya pendekatan tersebut sebenarnya sudah dilakukan. Salah satunya dengan mengajak sejumlah ulama agar datang langsung ke pabrik vaksin guna meyakinkan masyarakat bahwa vaksin tidak lagi berasal dari kultur babi. Diakui olehnya, untuk dapat meyakinkan hal tersebut bukan perkara yang mudah. “Namun, biarkan para ulama yang melihat sendiri proses pembuatannya agar selanjutnya dapat menjelaskan ke masyarakat untuk tidak lagi ragu untuk memberikan vaksin pada anak-anaknya,” terang Asrorun.