Laman

Rabu, 10 Mei 2017

Suntik Meningitis Mulai Dijalani CJH Pada Tahap Kedua Ini

Suntik Meningitis, Dalam Pemeriksaan kesehatan calon jamaah haji (CJH) pada tahap kedua telah dimulai. Puskesmas Sukodono mulai 8 Mei 2017 kemarin dan memperoleh giliran pertama untuk dapat menyelenggarakan pelayanan kesehatan CJH tahap kedua. Dengan jumlah total ada sebanyak 178 orang yang akan mendapatkan suntik meningitis. Suntik meningitis sangat penting dan wajib untuk dilakukan, pasalnya penyakit yang akan ditimbulkan jika tidak lakukan suntik meningitis tersebut akan mengancam keselamatan diri dan mematikan.

Suntik Meningitis Mulai Dijalani CJH Pada Tahap Kedua Ini

Plt Kepala Bidang Pengendalian Penyakit (P2) Dinas Kesehatan (Dinkes) yakni Sidoarjo dr Idong Juanda menyatakan bahwa, pemeriksaan kesehatan CJH tahap kedua ini sebelumnya telah dilaksanakan per wilayah. Awalnya, dinkes yang membagi menjadi delapan wilayah puskesmas. Namun, berdasarkan kesepakatan terakhir yang diberikan, untuk pemeriksaan kesehatan dilakukan di masing-masing puskesmas. ”Tetapi, pelaksanaannya akan digelar secara bertahap. Misalnya hari ini jadwal pertama yang siap adalah Puskesmas Sukodono, sehingga para jamaah juga masih bisa melakukan suntik meningitis bagi yang belum” jelasnya.

Ada sejumlah 198 CJH di wilayah Puskesmas Sukodono. Sebanyak 20 orang di antaranya itu yang gagal berangkat. Adapun penyebabnya, ada yang pindah rumah, cerai, menunda keberangkatan, hingga nama yang sama, tapi dengan  nomor porsi yang berbeda. ”Jadi, totalnya ada 178 CJH yang tahun ini berangkat, suntik meningitis mulai dijalani CJH pada tahap kedua Ini,” ujarnya.

Saat berlangsungnya pemeriksaan kesehatan tahap kedua, seluruh CJH tetap menjalani tes yang mendasar. Mulai melakukan tensi nadi, tes darah yang berindikasi penyakit dalam, hingga tes kehamilan bagi CJH perempuan. Selain itu, seluruh CJH wajib mendapatkan imunisasi meningitis yang diberikan. ”Seluruh CJH wajib diperiksa lebih dalam. Sebab, pemeriksaan kesehatan pada tahap kedua itu bertujuan untuk menentukan apakah CJH istithoah atau tidak,”jelasnya.

Berdasarkan hasil laporan sementara yang diperoleh dari Puskesmas Sukodono, lanjut dia, dari jumlah CJH yang melakukan pemeriksaan kesehatan, tidak banyak yang mengalami masalah kesehatan yang lebih serius. ”Banyak mereka yang muda-muda,” lanjutnya.

Setelah Puskesmas Sukodono melakukan pemeriksaan kesehatan kepada CJH tahap kedua pada awal pekan itu, pada 9 Mei 2017 kemarin merupakan giliran Puskesmas Wonoayu, Krembung dan Kepadangan. Pemeriksaan kesehatan tahap kedua dilaksanakan di masing-masing puskesmas. Sementara itu, puskesmas yang lain telah mempunyai jadwal sendiri untuk melaksanakan tes kesehatan tahap kedua. ”Sebenarnya kami ingin sekali dapat melaksanakan pemeriksaan dengan serentak biar tuntas lebih cepat. Namun, karena adanya perubahan dari per wilayah menjadi per puskesmas, ada juga dari sebagian puskesmas yang belum siap untuk dapat dilakukan dengan serentak,” terangnya.

Idong berharap selama pemeriksaan kesehatan tahap kedua dan tes kebugaran CJH bisa tuntas sebelum datangnya bulan suci Ramadhan. Dengan begitu, pihaknya juga dapat segera menyetorkan data CJH yang masuk dalam kategori istithoah (mampu), istithoah dengan pendampingan, belum istithoah dan tidak istithoah. ”Untuk sekarang masih dalam pemrosesan,” tuturnya.

Agenda Pelaksanaan pemeriksaan kesehatan tahap kedua ini dijadwalkan pada 8–23 Mei 2017. Jika masih ada CJH yang belum juga divaksinasi meningitis, masih ada kesempatan untuk melakukan suntik vaksin meningitis hingga sebulan sebelum keberangkatan ke Tanah Suci. CJH bisa langsung mendatangi puskesmas atau dinkes untuk melakukan vaksinasi meningitis. ”Kalau untuk melakukan pemeriksaan kesehatan tetap dilakukan di puskesmas, dinkes hanya melayani vaksinasinya saja,” paparnya.

Idong juga menambahkan bahwa, hingga saat ini, baru ada 75 persen laporan dari seluruh puskesmas di Sidoarjo yang sudah masuk ke sistem informasi dan komputerisasi haji terpadu (siskohat). Seharusnya dalam pendataan tersebut harus sudah tuntas sejak minggu lalu. Namun, lantaran ada hasil laboratorium CJH yang belum keluar juga, petugas puskesmas belum berhasil dalam meng-entry data. ”Sistemnya memang seperti itu. Harus menunggu hasil pemeriksaan komplet dulu, baru sudah bisa di-entry,” imbuhnya.

Menurut dia, kondisi kesehatan CJH wajib diperiksa secara detail dan lengkap. Sebab, jika memang sudah diketahui bahwa CJH tersebut tidak istithoah, dinkes secara tegas menuliskan catatan tersebut. ”Misalnya, penyakit gagal ginjal yang mengharuskan CJH melakukan hemodialisis(Hd) tentu dianggap tidak istithoah,” katanya.

CJH yang belum istithoah masih dapat melakukan terapi atau diobati sebelum keberangkatan tiba. Penentuan tersebut baru akan diketahui ketika dalam pemeriksaan kesehatan tahap pertama dan kedua tuntas. ”Kami akan memberikan rekomendasi yang akurat dan pasti kepada Kemenag,” tandasnya.