Laman

Kamis, 07 September 2017

Menghadang Ancaman Meningitis di Sekitar Anda

Menghadang ancaman meningitis, Penyakit meningitis ini sangatlah berbahaya bagi keselamatan seseorang. Ada sebanyak 50% pasien yang terserang penyakit ini hingga meninggal. Bahkan, ada yang lumpuh, tuli, buta atau mengalami kemunduran mental. Dengan melakukan vaksinasi terbukti efektif. Karena hanya dengan cara itulah meningitis dapat dihindarkan. Apalagi jika dilakukan sejak dini. Belum lama kita membahas penderita meningitis sampai mengalami kebutaan. Awalnya ia sudah putus asa menghadapi hidupnya dengan kebutaan. Sampai pada akhirnya ia menemukan titik terang, dimana ia tetap harus melanjutkan hidupnya dan membangun kembali cita-citanya dengan semangat.

Menghadang Ancaman Meningitis di Sekitar Anda

Meningitis ialah penyakit peradangan pada otak, yang disebabkan oleh virus atau bakteri yang menyerang di selaput otak hingga menyelimuti permukaan otak. Menurut WHO, sudah ada 2 juta lebih anak yang meninggal pada tiap tahunnya akibat dari penyakit ini. Lalu bagaiman untuk dapat menghadang ancaman meningitis?

Masih saja mengalami kesulitan dalam mengahadang penyakit meningitis. Satu dari lima itu kematian pada balita, yang disebabkan oleh penyakit mematikan tersebut. Survey Kesehatan Nasional 2001 telah mencatat, kematian balita yang disebabkan meningitis ini ada di peringkat pertama sekitar 23%, disusul dengan penyakit diare 13%, pada saraf 12%, dan masih banyak lainnya. Sedangkan, dalam penyebaran meningitis terbilang sangat mudah sekali, yakni dengan melalui udara (air bone).

Dimana penyakit meningitis ini dibawa oleh virus H. Influenzae. Sedangkan, sisanya itu oleh bakteri seperti Streptococcus Pneumoniae (pneumococcus) yang paling umumnya itu pada balita dan menyebabkan infeksi pada saluran pernapasan atas, kemudian masuk ke dalam peredaran darah dan terus mengalir. Adapun bakteri lainnya seperti Listeria Monocytogenes (listeria), bakteri ini ditemukan pada debu dan makanan (keju, hot dog atau sandwich).

Dr. Handiono Pusponegoro, SpA(K) dari Divisi Saraf Anak Departemen Ilmu Kesehatan Anak FKUI-RSCM memaparkan, “Penyakit meningitis memang sangat berbahaya. Bila penyebabnya itu karena bakteri Pnemococcus, 50% meninggal. Kalau pun tidak, pasien tersebut dapat mengalami kelumpuhan, tuli, epilepsy atau mengalami kemunduran mental.”

Proses penyebaran bakteri atau virus dimulai sejak bayi. Gejalanya itu, 62% bayi akan mengalami demam yang disusul dengan hiportemia, sulit untuk minum, diare, sulit pernapasan (sesak), kejang dan ubun-ubun membenjol karena tekanan tinggi dalam kepala. Sedangkan gejala yang dialami pada anak-anak yaitu demam, nyeri kepala dan kesadaran menurun. Sering juga disertai dengan kaku leher. “Untuk fase lanjut, akan berakibatkan kelumpuhan saraf otak, koma, gangguan pernapasan dan denyut jantung,” jelas dr. Hardiono.

Siapa saja yang menunjukkan gejala-gejala diatas, perlu segera melakukan pemeriksaan dengan cek darah, CT scan/MRI. Ynag lebih pentingnya lagi adalah pemeriksaan cairan selaput otak (lumbar puncture), dengan cara pengambilan cairan dari punggung. Pemberian antibiotik dalam waktu maksimal itu selama 6-8 jam, perlu segera untuk dilakukan guna mencegah kerusakan pada otak yang parah.

Waspadalah terhadap lingkungan yang berisiko tinggi terkontaminasi seperti pada tempat penitipan anak dan hunian padat. Berprilaku hidup sehat dengan cara menutup mulut pada saat batuk maupun bersin, hindari mencium bayi dengan mulut, sebelum dan setelah memegang sesuatu biasakan cuci tangan terlebih dahulu, hindari polusi udara dari asap rokok dan asap dapur.  dapatkan info >> haji plus non kuota  |  haji plus non kuota 2018

Pemberian vaksin meningitis untuk usia dibawah ini:

1.Usia 2 sampai 6 bulan; dapat diberikan 4 dosis, jarak dosis pertama dan kedua adalah 4-8 minggu dan demikian dilakukan seterusnya sampai bulan ke-6
2.Usia 7 sampai 11 bulan; dapat diberikan 3 dosis, 2 dosis pertama dengan interval 4 minggu, sedangkan dosis ketiga setelah usia 12 bulan
3.Usia 12 sampai 23 bulan; cukup dengan diberikan 2 dosis saja, dengan interval 2 bulan
4.Usia 2 sampai 9 tahun; cukup diberikan satu dosis saja