Laman

Sabtu, 28 Oktober 2017

Meningoensefalitis Sulit Menular Tapi Mematikan

Meningoensefalitis sulit menular, Penyakit radang pada selaput otak dan sumsum tulang belakang atau biasa dikenal dengan penyakit meningitis kini sebagian masyarakat sudah sedikir mengenal penyakit tersebut. meningitis merupakan satu bagian dari radang terkait dengan otak. Direktur Rumah Sakit Pusat Otak Nasional yakni Mursyid Bustami menerangkan, bahwa ada juga radang otak, dengan namanya itu adalah ensefalitis. Sangat jarang sekali orang hanya menderita meningitis, sebab posisi selaput otak sangat dekat sekali. Oleh sebab itu, sebutan yang lebih tepatnya adalah Meningoensefalitis.

Meningoensefalitis Sulit Menular Tapi Mematikan

Meningoensefalitis terbentuk dalam tiga kata bahasa Yunani: Menix yang artinya membrane atau selaput, ‘Enkephalos’ berarti otak dan akhirannya ‘Itis’ yang dalam bahasa medisnya adalah radang. Jika dipisahkan, meningitis artinya radang pada selaput otak dan ensefalitis ialah radang pada organ otak. Penyebabnya itu beraneka ragam, diantaranya dari bakteri, virus, dan jamur. Meningoensefalitis sulit menular namun mematikan.

Pusat Pengendalian dan Prevensi Penyakit (CDC) dari Amerika Serikat telah mencatat, bahwa Neiserria Meningitidis merupakan salah satu bakteri utama sebagai penyebab meningitis yang diakibatkan oleh bakteri. Meningoensefalitis sulit menular namun dapat mematikan. Di dunia, meningitis yang disebabkan jenis bakteri itu banyak terjadi di kawasan sub-sahara Afrika, yang dikenal sebagai “Sabuk Meningitis”. Daerah endemis tinggi terbentang dari Senegal ke Etiopia biasanya itu dapat terjadi di musim kering, dimana tingkat insidensi 10-100 kasus per 100.000 populasi.

Namun, Indonesia belum memiliki data tahunan yang pasti terkait dengan infeksi itu. Dimana jumlah kasus penyakit ini sempat tinggi pada tahun 1980-an, lalu menurun seiring dengan pertumbuhan ekonomi masyarakat. Akibatnya, penyakit itu kurang mendapatkan perhatian yang khusus dan serius. Namun, pada kasus meningoensefalitis kembali muncul. Menurut Mursyid, hal itu terjadi akibat banyak kasus kuman tuberculosis resisten obat dan meningkatnya penyakit yang terkait dengan daya tahan tubuh seperti HIV/AIDS.

Sedangkan secara umumnya, gejala meningitis yang berupa demam, nyeri otot dan kepala, serta kaku kuduk. Dari gejala meningitis tersebut penderita kemungkinan sudah terkena ensefalitis, ada juga tambahan gejala seperti penurunan kesadaran. “Apabila sudah lebih berat, penderita bisa kritis,” tuturnya.

Ada pula beberapa gejala yang berbeda akibat ensefalitis menyerang pada bagian otak yang berbeda. Misalnya saja, infeksi yag mengenai pada bagian otak untuk dapat mengoordinasikan gerak kaki dan tangan bagian sebelah, gejala yang timbul dapat melemahnya bagian tubuh sebelah seperti penderita stroke. Jika terkena pada bagian pengatur kemampuan kognitif, dapat menurunkan kemampuan berpikir.

Mursyid menerangkan, bahwa ada pun dua jenis meningoensefalitis yakni akut dan kronis. Meningoensefalitis akut datang secara tiba-tiba akibat dari virus dan bakteri, misalnya saja bakteri meningitidis, Streptococcus Pneumoniae, dan Listeria Monocytogenes.

Sedangkan untuk yang kronis, penyebabnya itu antara lain dari kuman seperti kuman tuberculosis dan parasite Taksoplasma gondii. Jumlah kasus yang kronis dan akut hampir serupa, tetapi untuk di Indonesia saja lebih umum meningoensefalitis kronis.

Meningoensefalitis sulit menular namun mematikan. Untuk pengobatan yang utama, pasien meningoensefalitis agar dapat memilih antibiotik yang tepat. Caranya adalah mengambil cairan otak lewat sumsum tulang belakang. 

Penyakit ini memang sulit sekali menular. Namun, sekali kena penyakit ini kemungkinan besar itu kematian menyerang,” ungkap Mursyid. Dengan alasan, pada sistem pertahanan otak hebat. Selaput otak itu tergolong bagian dari sistem pertahanan. Ada juga sawar darah otak/blood brain barrier. Pada sistem itu berfungsi untuk melindungi otak, termasuk dari cedera dan infeksi.

Hal itulah yang membuat mikroorganisme bagai pemicu meningoensefalitis sulit untuk mencapai ke otak. Namun, terdapat kuman dan virus nakal dan tidak mampu ditahan sistem itu. Jika mikroorganisme tersebut mampu mencapai ke otak, pengobatan pun akan menjadi sulit, sebab terlebih dahulu harus mencari antibiotik spesifik yang juga dapat menembus pertahanan otak.

Akibatnya, dokter pun harus memberi dosis antibiotik lebih tinggi bagi terapi infeksi pada otak dibandingkan dengan infeksi bagian lain. Terkadang, dapat 2-3 kali dibandingkan infeksi di bagian tubuh lain. “Hal ini karena kemampuan obat mampu menembus pertahanan otak minim, ada yang 15 persen, dan ada juga yang 20 persen,” papar Mursyid.

Masa pengobatannnya pun akan lebih lama lagi dibandingkan dengan penyakit biasa. Contohnya saja pada pasien TB yang harus mengkonsumsi obat tanpa putus-putus selama enam bulan, sedangkan pada pasien mengoensefalitis akibat dari TB mengkonsumsi obat tanpa putus selama 9-12 bulan. Hal inilah yang menyebabkan infeksi itu miliki tingkat kematian tinggi adalah pada bagian vital otak terdesak jika ada bengkak. Jika mendesak batang otak, fungsi tubuh pun akan berhenti, termasuk fungsi bernapas.

Dari dokter spesialis penyakit dalam dari Divivsi Alergi Imunologi Klinik Rumah Sakit Umum Pusat Cipto Mangunkusumo yani Iris Rengganis mengatakan, bahwa sudah ada vaksin untuk megurangi risiko tertular meningoensefalitis. Vaksin itu khusus untuk meningoensefalitis meningkokus yang disebabkan oleh N meningitidis. dimana efektivitas itu mencapai 80-90 persen, tergantung pada kondisi daya tubuh penerima vaksin. Bagi jamaah haji maupun umrah yang hendak ke Arab Saudi wajid mendapatkan vaksin itu paling lambat dua pekan sebelum berangkat ke Tanah Suci.