Laman

Selasa, 16 Januari 2018

Jenis Kejang Pada Meningitis Orang Tua Wajib Tahu

Jenis Kejang Pada MeningitisMeningitis adalah peradangan dari meningen yang sehingga dapat menyebabkan terjadinya gejala perangsangan seperti sakit kepala, kaki kuduk, fotofobia yang disertai dengan adanya peningkatan jumlah leukosit pada liquor cerebrospinal (LCS). Berdasarkan durasi yang ada dari gejalanya, meningitis dapat dibagi menjadi dua yakni akut dan kronik. Pada meningitis akut dapat memberikan sebuah manifestasi klinis dalam rentang jam hingga beberapa hari saja, sedangkan untuk meningitis kronik memiliki onset dan durasi sampai yang berminggu-minggu bahkan berbulan-bulan. Kebanyakan kasus yang ada, gejala klinik meningitis saling tumpang tindih disebabkan oleh etiologi yang sangat bervariasi. Meningitis juga dapat dibagi berdasarkan dari etiologinya. Sedangkan, meningitis bakterial akut itu sendiri merujuk kepada bakteri sebagai penyebabnya. Meningitis yang jenisnya seperti itu akan memiliki onset gejala pleositosis dan meningeal yang sifatnya akut. Penyebab dari itu antara lain adalah Streptococcus Pneumoniae, Haemophilus influenzae dan Neisseria meningitidis. Jamur dan parasit juga dapat menyebabkan meningitis seperti Cryptococcus, amoeba dan Histoplasma.

Jenis Kejang Pada Meningitis Orang Tua Wajib Tahu

Meningitis aseptik ialah sebutan umum yang menunjukkan respon selular nonpiogenik yang disebabkan oleh agen etiologi yang berbeda-beda. Bagi penderita biasanya menunjukkan gejala meningeal akut, demam, dan pleositosis LCS yang didominasi oleh limfosit. Jenis kejang pada meningitis itu bermacam-macam. Setelah melakukan pemeriksaan laboratorium beberapakali, telah didapatkan penyebab dari meningitis aseptik ini, kebanyakan yang berasal dari virus, di antaranya adalah Enterovirus, Herpes Simplex Virus (HSV).

Kejang dapat terjadi kapan dan dimana saja dan oleh siapa pun. Sebab kejang dapat terjadi akibat dari lepas muatan proksismal yang berlebihan dari sebuah fokus kejang atau jaringan normal yang terganggu akibat dari suatu keadaan patologik. Aktivitas kejang sebagian bergantung pada lokasi lepas muatan yang terlalu berlebihan. Thalamus, lesi di otak tengah, dan korteks serebrum yang kemungkinan besar bersifat epileptogenik, sedangkan lesi yang ada di serebelum dan batang otak pada umumnya tidak dapat memicu terjadinya kejang. Jenis kejang pada meningitis itu berbeda-beda. 

Kejang juga dapat diklasifikasikan sebagai parsial dan generalisata yang berdasarkan apakah kesadaran utuh ataukah lenyap. Parsial adalah kesdaran utuh walaupun mungkin dapat berubah, fokus di satu bagian tetapi dapat menyebar ke bagian yang lainnya. sedangkan, generalisata adalah hilangnya kesadaran, tidak adanya awitan fokal, bilateral dan simetrik dan tidak ada aura. Parsial dan generalisata dibagi lagi menjadi beberapa jenis, yakni:

Parsial terbagi menjadi 2 jenis:
1.Parsial Sederhana, dapat bersifat sensorik (merasakan, membaui dan mendengar sesuatu yang abnormal), autonomik (takikardia, takipnu kemerahan,bradikardia dan rasa tidak enak di epigrastium), motorik (gerakan abnormal unilateral), psikis (disfagia, gangguan pada daya ingat). Biasanya berlangsung kuran dari satu menit.
2.Persial Kompleks, awalnya itu dimulai sebagai kejang parsial sederhana, akan terus berkembang menjadi perubahan kesadaran yang didasari oleh gejala motorik, gejala sensorik, otamatisme (mengecap-ngecapkan bibir, menarik-narik baju dan mengunyah. Beberapa kejang pada parsial kompleks mungkin berkembang menjadi kejang generalisata dan biasnaya itu berlangsung selama 1-3 menit.


Generalisata terbagi menjadi 6 jenis:
1.Tonik-Klonik, splasma tonik-klonik otot, inkontinensia urin dan alvi. Menggigit lidah fase pascaiktus.
2.Absence, tatapan kosong, kepala sedikit lunglai, kelopak mata bergetaratau berkedip secara cepat, tonus tidak dapat hilang dan berlangsung dalam beberapa waktu.
3.Mioklonik, kontraksi mirip dengan syok mendadak yang terbatas di beberapa otot atau tungkai, cenderung singkat. 
4.Klonik, jenis yang merupakan gerakan yang menyentak, repetitive, tajam, lambat, dan tunggal atau multiple di lengan, tungkai atau turso.
5.Atonik, hilangnya secara mendadak tonus otot yang disertai dengan lenyapnya postur tubuh (drop attacks).
6.Tonik, peningkatan mendadak tonus otot menjadi kaku dan kontraksi. Wajah dan tubuh pada bagian atas serta fleksi lengan dan ekstansi tungkai. Mata dan kepala mungkin berputar ke satu sisi. Sehingga dapat menyebabkan henti nafas.

Dari seluruh jenis tersebut, kejang tonik-klonik yang sering disebut sebagai kejang demam yang paling sering terjadi pada anak yang masih berusia kurang dari 5 tahun. Teori memberikan saran bahwa kejang ini disebabkan oleh hipertermia yang muncul secara cepat yang berkaitan dengan infeksi virus atau bakteri. Kejang ini pada umumnya berlangsung secara singkat dan mungkin terdapat predisposisi familial. Pada beberapa kasus yang ada, kejang juga dapat berlanjut melewati masa anak dan anak mungkin akan mengalami kejang nondeman pada kehidupan yang selanjutnya.

Kejang tonik-klonik dahulunya itu disebut dengan grand mal yakni kejang epilepsy yang klasik. Kejang tonik-klonik yang diawali dengan hilangnya kesadaran dengan cepat. Akibat dari ekspresi paksa yang disebabkan oleh spasme toraks atau abdomen, biasanya pasien akan bersuara menangis. Selain menangis, juga akan kehilangan posisi berdirinya dan mengalami gerakan tonik kemudian klonik dan inkontinensia urin atau alvi (maupun keduanya), yang disertai dengan difungsi autonomy. Pada fase tonik, otot-otot berkontraksi dan posisi tubuh mungkin akan berubah. Fase ini hanya berlangsung beberapa detik saja. 

Pada fase klonik memperlihatkan berbagai kelompok otot yang berlawanan, bergantian, berkontraksi dan melemas sehingga terjadinya gerakan-gerakan yang menyentak. Jumlah kontraksi secara bertahap akan berkurang namun kekuatannya tidak berubah. Lidah mungkin dapat tergigit, hal ini terjadi pada sekitar separuh pasien spasme rahang dan lidah. Dari keseluruhan kejang yang berlangsung selama 3 hingga 5 menit dan diikuti oleh periode tidak sadar yang mungkin berlangsung hingga beberapa menit sampai selama 30 menit. Setelah si pasien tersadar mungkin akan tampak kebingungan, agar stupor atau bengong. Pada tahap ini dapat disebut sebagai periode pascaiktus. Pada umumnya pasien tidak dapat mengingat kejadian saat dia mengalami kejang.

Untuk dapat mempertahankan hidup pasien, sel otak membutuhkan energy yakni senyawa glukosa yang didapat dari proses metabolisme. Membran yang mengelilingi sel-sel otak dalam keadaan yang normal maka membran sel neuron dapat dilalui tanpa ada kesulitan oleh ion Kalium (K+) dan akan sangat sulit sekali bila dilalui oleh ion Natrium (Naa+) dan elektrolit lain kecuali Clorida (CI-). Akibatnya konsentrasi ion K di dalam sel neuron tinggi dan konsentrasi ion Na rendah. Keadaan yang sebaliknya terjadi di luar sel neuron. Sebab perbedaan jenis dan konsentrasi ion di dalam maupun di luar sel tersebut maka akan terjadi beda potensial yang disebut dengan Potensial Membran Sel Neuron.

Kemudian, untuk dapat menjaga kesimbangan potensial membran sel diperlukan juga energy dan enzim Na-K-ATP ase yang terdapat di permukaan sel. Dimana keseimbangan pada potensial membran sel yang dipengaruhi oleh:

1.Perubahan pada konsentrasi ion di ruang ekstraseluler.
2.Rangasnagan yang datangnya secara mendadak baik itu dari rangsangan mekanis, kimiawi atau aliran listrik dari sekitarnya.
3.Perubahan patofisiologi dari membran yang disebabkan dari penyakit atau faktor keturunan. Seseorang dalam keadaan demam dengan kenaikan suhu hingga mencapai 1 celcius akan mengakibatkan kenaikan metabolisme basal 10-15 % dan peningkatan kebutuhan oksigen bisa sampai 20%.

Jadi, pada kenaikan suhu yang tertentu dapat terjadi perubahan keseimbangan dari membrane sel, akibat dari lepasnya muatan listrik yang demikian besar sehingga dapat meluas keseluruh sel maupun ke membran sel tetangga dengan bantuan neurotransmitter dan terjadilah kejang. Lalu, pada anak yang sedang dalam ambang kejang yang rendah kenaikan suhu hingga 38 celcius sudah terjadi kejang-kejang, namun pada anak dengan ambang kejang yang sangat tinggi, kejang baru terjadi ketika anak pada suhu diatas 40 celcius.