Laman

Jumat, 12 Januari 2018

Terapi Meningitis Bakteri Sekilas Pengobatannya

Terapi Meningitis BakteriMeningitis merupakan salah satu perdangan akut selaput pelindung otak dan saraf tulang belakang yang biasa disebut sebagi meninges. Terjadi peradangan ini disebabkan oleh adanya infeksi virus, bakteri atau mikroorganisme lainnya dan konsusmi obat-obatan tertentu. Meningitis yang diderita oleh seseorang dapat mengancam keselamatan jiwa sebab peradangannya dekat sekali dengan otak dan sumsum tulang belakang. Oleh sebab itu, kondisi seperti itu dikualifikasikan sebagai suatu keadaan darurat medis. Pada umumnya gejala meningitis itu adalah sakit kepala dan kekakuan leher masih terkait dengan demam, hilang kesadaran, kebingungan, muntah, dan ketidakmampuan dalam melihat cahaya (takut pada cahaya), dan masih banyak lainnya.

Terapi Meningitis Bakteri Sekilas Pengobatannya

Sebelum membahas terapi meningitis bakteri, Meningitis yang disebabkan oleh bakteri Neisseria meningitidis atau biasa dikenal sebagai ‘Meningitis Meningkokus’ dapat dibedakan dari meningitis dengan penyebab lain dengan ruam yang cepat menyebar luas. Ruam memiliki ukuran yang kecil, tidak teratur, berwarna merah bintik-bintik atau ungu pada ekstremitas bawah, conjunctiva, mukosa, dan telapak tangan atau telapak kaki. Ruam kulit yang ada tidak hilang jika ditekan dengan menggunakan jari dan gelas kaca. Pada penyakit meningitis biasanya jaringan otak dapat membengkak dan dapat meningkatkan tekanan di dalam tengkorak. Selain itu, kejang juga dapat terjadi sebab banyak berbagai alasan seperti meningitis pada anak-anak umumnya kejang di tahap awal meningitis (30% kasus) dan tidak serta merta menunjukkan penyebab yang mendasari.

Penyebab dari kelainan saraf kranial adalah akibat dari peradangan meninges yakni dari sekelompok saraf yang timbul dari batang otak yang kemudian menyuplai daerah kepala dan leher serta yang mengendalikan itu semua, antara lain fungsi, otot-otot wajah, gerakan mata dan pendengaran. Meningitis biasanya juga disebabkan oleh infeksi mikroorganisme. Namun sebagian besar infeksi yang biasanya disebabkan oleh virus, bakteri, jamur dan protozoa yang menjadi penyebab paling umum berikutnya. Meningitis jenis tersebut biasanya diakibatkan oleh virus akan tetapi bisa juga karena infeksi bakteri. Ketika bakteri telah menghilang dari meninges atau patogen menginfeksi ruang yang berdekatan dengan meninges. ada terapi meningitis bakteri sekilas dengan pengobatannya.

Penyebab meningitis bakteri dari berbagai macam jenis bakteri yang bervariasi menurut kelompok umur individu terinfeksi. Pada orang dewasa, Neisseria meningitidis dan Streptococcus pneumoniae bersama-sama menyebabkan 80% kasus meningitis bakteri. Listeria monocytogenes dengan risiko infeksi akan terus terjadi peningkatan pada seseorang yang sudah berusia lebih dari 50 tahun. Penggunaan vaksin pneumokokus telah menurunkan tingkat meningitis pneumokokus pada anak-anak dan orang dewasa. Sedangkan, Pada bayi prematur dan bayi baru lahir hingga umur tiga bulan, penyebab umumnya adalah streptokokus group B (subtipe III yang biasanya menghuni vagina dan terutama penyebab infeksi selama minggu pertama kehidupan) dan bakteri yang biasanya menghuni pencernaan seperti Escherichia coli (membawa K1 antigen). Listeria monocytogenes (serotype IVb) dapat mempengaruhi bayi dan terjadi dalam epidemi.

Meningitis yang disebabkan oleh Mycobacterium tuberculosis yang terjadi pada seseorang dari negara dimana tuberculosis endemik disebut meningitis tuberculosis. Tetapi juga dapat dijumpai pada seseorang yang sedang mengalami masalah mengenai kekebabalan tubuh, seperti AIDS. Penyakit meningitis bakteri yang terus berulang-ulang bisa juga disebabkan oleh cacat anatomi bertahan, baik itu dari bawaan atau faktor dapatan maupun gangguan pada sistem kekebalan tubuh. Penyebab yang paling umumnya itu adalah patah tulang tengkorak, terutama fraktur yang memberikan pengaruh dasar tengkorak atau memperpanjang menuju sinus dan paramida petrosa.

Mungkin selama ini kita hanya mengetahui bahwa meningitis itu terjadi dan menyebar akibat dari penularan tapi ternyata ada juga meningitis yang dapat terjadi sebagai hasil dari beberapa penyebab yang tidak menular, yakni penyebaran kanker ke meninges ganas atau neoplastic meningitis dan obat-obatan tertentu terutama obat non-steroid anti-inflamasi, antibiotik dan immunoglobulin intravena. Beberapa kondisi inflamasi yang ada akibat dari meningitis aseptik, seperti Sarkoidosis, gangguan jaringan ikat seperti lupus eritematsus sistemik dan bentuk-bentuk tertentu vaskulitis, seperti penyakit Behcet’s. Kista epidermoid dan kista dermoid dapat menyebabkan meningitis dengan melepaskan iritan ke ruang subarachnoid.

Untuk beberapa penyebab meningitis yang terjadi, perlindungan dapat diberikan dalam jangka panjang dengan melalui vaksinasi atau dalam jangka pendek dengan penggunaan antibiotik. Adapun beberapa langkah-langkah perubahan perilaku juga yang mungkin efektif. Meningitis dapat mengancam nyawa seseorang jika tidak segera diobati. Keterlambatan dalam melakukan pengobatan telah dikaitkan dengan hasil yang buruk. Dengan demikian dalam proses pengobatan dengan penggunaan antibiotik spektrum luas tidak boleh tertunda sementara itu tes konfirmasi masih sedang dilakukan. Cairan intervena harus diberikan apabila terdapat hipotensi atau tekanan darah rendah dan shock.

Ventilasi mekanik mungkin akan sangat diperlukan bila tingkat kesadaran sangat rendah atau jika ada kegagalan pernapasan. Jika memang mendapati tanda-tanda peningkatan tekanan intrakranial, langkah-langkah untuk memantau tekanan dapat diambil, meliputi optimalisasi tekanan perfusi serebral dan berbagai perawatan untuk dapat mengurangi tekanan intrakranial dengan obat. Kejang dapat diterapi dengan antikonvulsan.

Penjelasan mengenai terapi meningitis bakteri,

1.Steroid
kortikosteroid dapat digunakan sebagai pengobatan tambahan biasanya deksametason telah menunjukkan beberapa manfaat yang telah dilakukan, seperti mengurangi kehilangan pendengaran dan hasil neurologis jangka pendek yang lebih baik. Steroid tampaknya akan membawa kemanfaatan untuk mereka yang sedang meningitis tuberkulosis, setidaknya orang yang negatif HIV.

Menurut pedoman profesional yang telah memberikan saran untuk permulaan deksametason atau kortikosteroid serupa sebelum dosis pertama antibiotik diberikan, dan terus selama empat hari. Mengingat bahwa sebagian besar manfaat yang dihasilkan dari pengobatan terbatas kepada mereka yang menderita dengan pneumokokus meningitis, menurut dari beberapa pedoman yang ada memberikan saran bahwa deksametason dihentikan jika penyebab meningitis telah diidentifikasi.

2.Meningitis jamur
Meningitis jamur, seperti cryptococcal meningitis, diobati dengan anti jamur dosis tinggi, seperti Amfoterisin B dan flusitosin.

3.Meningitis virus
Meningitis virus biasanya hanya membutuhkan terapi suportif. Meningitis virus cenderung lebih jinak dari meningitis bakteri. Varicella zoster virus dan Herpes simplex virus mungkin dapat meresponsif dengan menggunakan obat-obat antivirus seperti aciclovir, tetapi tidak ada uji klinis yang telah melakukan dan menyatakan secara khusus membahas apakah pengobatan ini efektif. Adapun beberapa kasus meningitis virus ringan yang dapat diobati di rumah dengan langkah-langkah yang konservatif seperti cairan, bedrest dan analgesik.

4.Antibiotik
Antibiotik empiris harus dimulai dan dilakukan dengan segera, bahkan sebelum hasil pungsi lumbal dan analisis CSF diketahui. Pilihan dalam melakukan pengobatan awal itu tergantung pada jenis bakteri yang dapat menyebabkan meningitis di tempat tertentu dan populasi. Misalnya di beberapa negara, seperti di Inggris pengobatan empiris terdiri dari cefalosporin generasi ketiga seperti cefotaxime atau ceftriaxone. Di Amerika Serikat, dimana resistensi terhadap cefalosporins semakin ditemukan pada streptokokus, penambahan Vankomisin untuk pengobatan awal dianjurkan. Kloramfenikol, baik tunggal atau dalam kombinasi dengan ampicillin, dapat diberikan dengan pertimbangan tertentu.