Laman

Sabtu, 29 April 2017

Bisakah Meningitis Kambuh Lagi?

Apakah penyakit ini bisa kambuh lagi? Jika seseorang sudah berhasil selamat dari meningitis. Penyakit meningitis memang masih jarang sekali terdengar oleh anda, karena penyakit ini tidak seperti dengan penyakit lain yang umum seperti batuk, flu, atau demam biasa. Namun pada kenyataanya meningitis merupakan penyakit yang kejam karena dapat menyebabkan kecacatan atau kematian. 


Bisakah Meningitis Kambuh Lagi?


Dalam penanganan penyakit meningitis ini tergolong sangat sulit sekali, karena penyakit meningitis ini datangnya secara tiba-tiba dan terkadang sulit untuk di diagnosis secara tepat. Lalu, bisakah meningitis kambuh lagi? Jika dinyatakan telah sembuh. "Kalau sudah terkena meningitis masih bisa kambuh lagi atau justru akan terkena infeksi baru," ujar dr Darma Imran, SpS(K) dari FKUI-RSCM.

dr Darma memaparkan hal tersebut dapat terjadi karena penyebab dari infeksi otak yang salah satunya ialah meningitis, dimana meningitis ini ada ratusan atau bahkan ribuan yang terdapat didalam otak dan menyelimutinya, mulai dari virus, bakteri, parasit, jamur hingga cacing pita. Selain itu juga, meningitis itu penyakit yang sangat dekat dengan otak dan tulang belakang, sehingga dapat memberikan dampak kapada kerusakan pikiran, gerak tubuh dan bahkan menyebabkan kematian. Dengan begitu tidak hanya timbul pertanyaan bisakah meningitis kambuh lagi? Melainkan, apakah meningitis penyakit yang mematikan?.

Kondisi ini juga sangat dikhawatirkan oleh Bapak Usman dari Jambi yang anaknya juga pernah terkena meningitis saat berusia 10 bulan. Ketika itu bayinya mengalami demam yang temperaturnya naik turun selama 3 minggu, lalu akhirnya dibawa ke rumah sakit umum dan harus dirawat inap.

"Anak saya baru satu hari dirawat mengalami koma, setelah diambil cairan tulang belakangnya hasil laboratorium yang diperoleh menunjukkan positif mengidap meningitis. Dokter memberikan penjelasan pada saya kemungkinan terburuk yang akan terjadi adalah seperti kerusakan otak, kelumpuhan, kematian dan sebagainya," terang Bapak Usman.

Setelah 12 hari anaknya mengalami koma akhirnya tersadar tapi nyaris seluruh organ tubuhnya tidak dapat berfungsi, misalnya yang tadinya dapat berjalan jadi tidak dapat jalan dan tidak dapat mendengar. Setelah anaknya sadar ia mulai melakukan pengobatan yang ketat, dengan melakukan terapi dua kali seminggu selama satu tahun dan rutin kontrol.

"Saat ini ia sudah berusia 2,5 tahun dan sudah sehat hanya fungsi kaki kirinya saja yang belum sepenuhnya normal dan masih sulit dalam mengendalikan emosinya," ungkapnya.

dr Darma mengatakan salah satu faktor yang terpenting dalam menentukan keberhasilan dalam pengobatan meningitis adalah melakukan diagnosis dengan tepat sehingga dapat diketahui penyebab yang sebenarnya. Pemeriksaan dengan melalui rontgen, CT-scan atau MRI pada umumnya hanya dapat membantu untuk mengenali tanda-tanda radang otak, tapi untuk diagnosis pastinya dengan melalui pemeriksaan cairan otak.

"Dalam proses pemeriksaan ini sifatnya invasif artinya menusuk organ untuk mengambil cairan jadi harus dilakukan dengan hati-hati sekali karena relatif ada bahayanya. Namun manfaat yang diperoleh juga sangat besar, karena dengan begitu dapat melihat siapa yang akan bertanggung jawab terhadap infeksi tersebut," tuturnya.

"Meningitis merupakan gejala peradangan yang mengenai lapisan selaput pelindung jaringan otak dan sumsum tulang belakang, selain itu juga merupakan infeksi otak yang mematikan, meskipun persentase di Indonesia tidak tinggi tapi angka kematiannya yang cukup tinggi yaitu lebih dari 50 persen," jelas dr Darma.