Laman

Jumat, 28 April 2017

Wabah Meningitis Serang 300 Orang Nigeria

Wabah Meningitis Serang 300 Orang Nigeria, wabah meningitis cerebrospinal yang telah menyerang otak itu telah dilaporkan terjadi di 15 wilayah. Itu termasuk dalam jenis varian baru, penyakit tersebut juga muncul di Nigeria, yakni dengan varian 'stereotype C' atau tipe C. Melonjaknya angka kematian yang terjadi disebabkan oleh keterbatasan vaksin untuk meningitis tipe C yang tersedia di Nigeria.


Wabah Meningitis Serang 300 Orang Nigeria


"Sebenarnya vaksin meningitis sudah tersedia, tapi untuk tipe C, vaksin itu tidak tersedia disana secara sangat komersil dan kami juga belum meminta kepada WHO, wabah meningitis serang 300 orang Nigeria," jelas Kepala Pusat Pengendalian Penyakit, Nigeria, Chikwe Ihekweazu.

Namun keterangan yang diberikan berbeda dengan yang diujarkan oleh Menteri Kesehatan Nigeria Isaac Adewole. Menteri Kesehatan itu menerangkan bahwa ada sebanyak 1,3 juta vaksin untuk meningitis tipe C yang telah tersedia. Entahlah, namun yang terjadi saat ini wabah meningitis serang 300 orang Nigeria.

"Kita ini memang sudah memiliki 500.000 dosis vaksin meningitis dari WHO dan akan digunakan di Provinsi Katsina dan Zamfara. Ada juga tambahan 800.000 ampul datang dari pemerintah Inggris," terang Adewole.

Sudah terhitung ada 2.000 kasus meningitis yang terjadi di Nigeria. Dan, hanya berjumlah 109 diantaranya yang mendapat perawatan sejak Februari 2017 lalu. Tim respons kesehatan pun sudah dikirim oleh kementerian ke 5 provinsi di barat laut Nigeria.

Nigeria adalah salah satu dari 26 negara yang ada dengan tingkat wabah meningitis yang tinggi di Afrika. Wabah meningitis akan mulai melanda pada musim kering kemarau hingga musim penghujan.

"Meningitis merupakan penyakit yang sangat sulit untuk diobati, terutama apabila sudah masuk pada periode musim kering kemarau hingga penghujan, dan diperparah dengan kepadatan jumlah penduduk, kesadaran kesehatan yang masih rendah dan sistem ventilasi yang sangat buruk," tambah Ihekweazu.

Menurut keterangan WHO, ada 5 hingga 10% pasien dapat meninggal dengan cepat dalam kurun waktu 24 hingga 48 jam masa pengobatan berlangsung. Itu membuktikan bahwa tingkat kesulitan dalam melakukan pengobatan yang cukup tinggi.

Gejala penyakit meningitis ini meliputi leher kaku, demam tinggi, sangat peka terhadap cahaya, merasa kebingungan, sakit kepala hebat dan muntah-muntah.

Pemerintah lokal dan organisasi internasional masih terus berupaya agar dapat menekan fenomena wabah penyakit meningitis yang semakin meluas dan sulit ditangani dengan waktu cepat.

"Kami akan terus berusaha memberikan hal yang terbaik mengenai meningitis dan kami percaya bahwa usaha kami ini akan mampu menekan laju mewabahnya penyakit tersebut di kemudian hari," tutup Ihekweazu.