Laman

Rabu, 31 Mei 2017

Infeksi Gigi Picu Sakit Jantung dan Meningitis

Infeksi gigi picu sakit Jantung dan Meningitis, Seringkali dianggap sepele masalah pada daerah gigi dan mulut. Masyarakat kita banyak yang hanya menganggap luka atau infeksi yang terjadi pada gigi sebagai masalah yang biasa-biasa saja, yang akan sembuh dengan sendirinya tanpa pengobatan. Namun, siapa yang menira bahwa berawal dari infeksi di daerah mulut dapat menyebabkan penyakit baru lainnya yang akan timbul seperti jantung, bahkan hingga penyakit meningitis.

Infeksi Gigi Picu Sakit Jantung dan Meningitis

"Infeksi gigi picu sakit jantung dan meningitis. Oleh sebab itu, jika ada masalah yang ada di gigi dan mulut jangan dianggap kecil. Pada mulut dan gigi memang terdapat kuman, namun kumannya tidak bersifat patogen. Mereka sifatnya baru akan menyebabkan penyakit bila sudah memenuhi syarat akan terjadinya infeksi," jelas Mangatas Manalu, yang meruakan seorang dokter ahli penyakit dalam Rumah Sakit Mayapada.

"Selain itu, banyak juga masyarakat yang memiliki masalah pada mulut dan gigi lalu datang ke pihak yang tidak kompeten sehingga infeksi gigi picu sakit jantung dan meningitis. menjadi infeksi berat karena tidak sesuai dengan standar kemudian infeksi tersebut menyebar luas ke organ lain hingga mengharuskan agar dibawa ke Gawat Darurat.”

Itu bukan lelucon. Kisah Mangatas yang pernah menemukan seorang pasien yang terkena infective endocarditis atau radang yag terdapat pada lapisan dalam jantung. Dan ketika diteliti lebih lanjut untuk menemukan, apa penyebab penyakit tersebut, akhirnyapun di temukan keberadaan bakteri yang biasa ada di mulut manusia, bakteri itu bernama Streptococcus viridans, pada jaringan yang meradang.

Untuk penelusuran lebih lanjut, keberadaan bakteri yang terdapat pada mulut tersebut bersumber dari infeksi yang terjadi di sekitar gigi pasien sebelum terjadinya radang pada jantung. Infeksi yang terjadi sudah menyebar luas hingga bakteri kemudian bakteri itu berpindah melalui aliran darah dan menyerang jaringan yang ada di jantung.

Mangatas memaparkan, infeksi dan perpindahan bakteri tersebut memang jarang sekali terjadi. Namun, meskipun seperti itu tidak menutup kemungkinan adanya perpindahan bakteri, terutama bila syarat infeksi terpenuhi, yakni hanya dengan jumlah bakteri yang cukup untuk menginfeksi, adanya migrasi mikroba dari satu organ menuju ke organ lainnya, karena terjadinya kelemahan pada organ, adanya perubahan lingkungan yang mendukung untuk terjadinya infeksi, hingga bakteri yang mutan seperti bertambahnya resistensi bakteri akibat penggunaan antibiotik yang sembarangan.

Jumlah Dokter Gigi di Indonesia Masih Minim

Peluang besar untuk terjadinya infeksi akan semakin besar pada penanganan masalah pada gigi dan mulut bila tidak langsung dilakukan oleh pihak yang berkompeten pada bidangnya, dalam hal tersebut yang terjadi adalah tenaga medis kedokteran gigi. Dan ternyata untuk di Indonesia, dalam penanganan masalah gigi oleh tenaga ahlinya masih tergolong rendah sekali.

Berdasarkan data yang sudah diperoleh dari Kementerian Kesehatan yang dirilis sejak 2014, untuk jumlah seluruh penduduk Indonesia yang mengalami masalah pada gigi dan mulut meningkat dari 23 persen pada 2007 menjadi 26 persen pada 2013 lalu. Adapun kelompok usia yang sangat rentan dengan penyakit gigi dan mulut adalah pada usia lima hingga sembilan tahun, dan usia 45 hingga 54 tahun.

Namun, adanya kenaikan jumlah penduduk di Indonesia dengan masalah gigi ternyata masih memiliki kemampuan yang masih cukup rendah dalam menjangkau tenaga medis yang berkualitas.Hal itu dapat dilihat dari capaian effective medical demand (EMD) yang hanya mencapai 8,1 persen pada 2013. EMD yang merupakan persentase penduduk yang memiliki masalah dengan gigi dan mulut lalu mendapat pelayanan medis dalam 12 bulan terakhir.

"Banyak berbagai macam jenis penyakit yang tiba-tiba muncul akibat dari meluasnya infeksi pada gigi dan mulut, seperti infective endocarditis, yakni radang selaput otak atau meningitis. Kedua penyakit itu pernah ditemukan. Kemudian infeksi dapat pindah ke paru sehingga menyebabkan pneumonia. Atau yang lainnya seperti ke kandung kemih, jantung dan ginjal. Jika terjadi infeksi gigi tidak bisa dianggap remeh," jelas Mangatas.

Perkataan Mangatas tersebut didukung dengan temuan yang dilakukan oleh Rumah Sakit Hasan Sadikin Bandung lalu dipublikasikan dalam Sari Pediatri pada 2013 lalu. Penelitian yang dilakukan tersebut menyebutkan bahwa anak dengan riwayat infeksi gigi memiliki risiko sebanyak 2,7 kali lebih tinggi mengalami Henoch Scholenim Purpura atau HSP dibanding pada anak yang tidak infeksi gigi. Pengertian HSP itu sendriri adalah penyakit peradangan pembuluh darah yang umum diderita oleh anak yang berusia dibawah 10 tahun, dengan memiliki potensi kerusakan ginjal.

Pergeseran Penyakit Akibat Infeksi

Farichah Hanum yang merupakan Ketua Umum Persatuan Dokter Gigi Indonesia atau PDGI mengatakan bahwa telah terjadi pergeseran tren penyakit yang di akibatkan oleh infeksi yang ada di dunia. Pada abad 1900, penyakit infeksi yang terjadi cenderung menular seperti kolera. Namun, sudah memasuki milenium baru ini, untuk penyakit infeksi yang terjadi lebih didominasi karena Penyakit Tidak Menular (PTM) seperti penyakit stroke, jantung, serta diabetes yang dapat menyebabkan kematian hingga 58 persen.

"Masalahnya itu adalah faktor risiko PTM itu ada yang sama dengan penyebab penyakit di rongga mulut. Sehingga bila penanganan infeksi yang berada pada rongga mulut baik, maka risiko PTM yang terjadi secara bersamaan akan berkurang," tutur Farichah.

"Mulut yang merupakan pintu masuk ribuan kuman walaupun tidak menyebabkan penyakit. Tapi untuk rongga mulut ini adalah cermin juga dari tubuh, penyakit yang ada di tubuh dapat dilihat dari mulut,” jelasnya.

Menurut Mangatas, “Beberapa pencegahan akan terjadinya infeksi yang mengerikan dapat dilakukan sejak dini, seperti agar mengurangi konsumsi gula yang tinggi karena gula dapat membuat kondisi mulut menjadi asam dan sangat memudahkan terjadinya infeksi.

Selain itu, dengan meggosok gigi secara teratur sesudah sarapan dan sebelum tidur dengan menggunakan pasta gigi. Kemudian membersihkan gigi dengan cara yang aman, seperti dengan menggunakan dental floss.

Terakhir, Farichah kembali mengingatkan kepada semua pihak untuk selalu rutin mengecek kondisi gigi ke dokter gigi setiap enam bulan sekali dalam rangka pencegahan dan deteksi dini kerusakan gigi dan mulut. Hal tersebut akan bermanfaat guna mencegah penyebaran infeksi menjadi penyakit yang lebih berbahaya lagi.