Laman

Rabu, 22 November 2017

Penyakit Leptospirosis Dapat Berdampak Meningitis

Penyakit Leptospirosis, Peristiwa tewasnya warga Dukuh Karangan, Kelurahan Babatan, Kecamatan Wiyung, Surabaya, bernama Sukatono mendapat perhatian dari masyarakat umum. Penyebab kematiannya itu diduga akibat dari penyakit Leptospirosis, sehingga membuat pemerintah kota dengan melalui Dinas Kesehatan Kota Surabaya terjun langsung untuk meninjau lebih jelas kondisi lapangan yang sebenarnya. Sebab, peyakit ini juga sangat membahayakan sehingga dapat menghilangkan nyawa seseorang. Lalu sebenarnya apakah penyakit leptospirosis dan bagaimana cara untuk melakukan pencegahannya?

Penyakit Leptospirosis Dapat Berdampak Meningitis

Penyakit Leptospirosis adalah penyakit yang diakibatkan oleh bakteri leptospira yang disebarkan dengan melalui urine atau hewan yang terinfeksi oleh bakteri ini. adapun beberapa jenis hewan yang dapat menjadi pembawa penyakit leptospirosis, yaitu anjing, tikus dan kelompok hewan ternak seperti babi dan sapi. Selain itu, penyakit Leptospirosis juga dapat meyerang manusia dengan melalui kontak langsung dengan air, seperti air banjir, sungai, kolam, danau atau air selokan dan tanah yang telah terkontaminasi urine hewan pembawa bakteri leptospira. 

Penyakit Leptospirosis juga dapat menimbulkan meningitis (radang selaput otak), gagal ginjal, gangguan pernafasan, gangguan liver hingga pada kematian. Seseorang yang terinfeksi bakteri leptosira menunjukkan beberapa gejala yang umumnya menyerupai flu, yaitu demam, nyeri otot dan pusing. Leptospirosis juga tidak memiliki gejala yang cukup signifikan sehingga sulit untuk dilakukan diagnosa

Gejala leptospirosis umumnya dapat berkembang dalam kurun waktu 1-2 minggu hingga satu bulan setelah penderitannya itu terpapar bakteri ini dan cenderung membaik minimal dalam lima hari hingga waktu maksimal satu minggu setelah gejala muncul. Adapun gejala lainnya yang mungkin saja muncul, yaitu:
1.Mual
2.Muntah
3.Meriang
4.Sakit kepala
5.Sakit perut
6.Nyeri otot
7.Diare
8.Demam tinggi
9.Ruam
10.Iritasi dan kemerahan di area mata
11.Batuk
12.Hilang nafsu makan
13.Kulit atau area putih pada mata yang menguning

Gejala leptospirosis yang lebih berat lagi dapat berujung kepada komplikasi yang lebih serius, berupa dengan pendarahan hingga gagal fungsi pada organ-organ tertentu. Dimana kondisi pada penderita penyakit ini secara umum akan terus membaik dari gejala awal yang muncul, namun selanjutnya akan menjadi sakit kembali dan berkembang baik menjadi kondisi yang lebih serius lagi. Kasus leptospirosis akan lebih memburuk dapat terjadi pada 1 dari 10 penderita pada 1-3 hari setelah gejala awal mereda. Jika tidak segera ditangani, penderita dipastikan akan mengalami kerusakan pada otak, gagal fungsi ginjal dan gangguan fungsi paru-paru. Kasus yang seperti ini cenderung dikenal dengan nama penyakit weil. Beberapa gejala yang mungkin saja dialami, yaitu:

1.Sakit di area dada
2.Pembengkakan pada pergelangan tangan atau kaki
3.Nafas yang pendek atau kehabisan nafas
4.Gejala yang menyerupai penyakit meningitis atau radang otak (ensefalitis), seperti kejang, muntah dan sakit kepala
5.Warna kulit menguning atau bagian putih pada mata yang menguning (penyait kuning)
6.Batuk darah

Penyakit leptospirosis sebenarnya tidak akan terjadi ika masyarakatnya itu dapat memelihara kebersihaningkungan dengan baik. Kepala Dinas Kesehatan Kota Surabaya yakni Febria Rachmanita menghimbau kepada warga masyarakat agar tetap menjaga kebersihan lingkungan rumah dan sekitarnya.

“Hal yang paling penting adalah selalu jaga kebersihan serta barang-barang yang sudah tidak terpakai segera dibuang agar tidak terjadi penumpukan,” jelasnya.

Dalam kesempatan ini juga dirinya turut menghimbau kepada masyarakat yang mengalami gejala yang serupa agar segera melakukan pemeriksaan lebih jauh. “Kalau terdapat gejala demam atau panas langsung segera ke Puskesmas untuk memeriksakan diri,” imbaunya. Selain itu juga, Ia menambahkan bahwa pentingnya menggunakan cairan desinfektan untuk membersihkan lantai yang terpapar oleh urine hewan sebelum digunakan untuk melakukan aktivitas.

Kasus ini sendiri merupakan kasus leptospirosis kedua yang ditangani oleh Dinkes Kota Surabaya setelah sebelumnya pada tahun 2012 terdapat kejadian yang serupa. Untung saja dalam kejadian tersebut tidak terdapat korban jiwa lainnya.