Laman

Senin, 08 Januari 2018

Vaksinasi Influenza Dikampanyekan Medis Saudi

Vaksinasi Influenza - Dokter dan siswa medis Arab Saudi melakukan kampanye vaksinasi terutama vaksinasi influenza di tengah-tengah masyarakat yang masih meragukan hal itu. Dalam beberapa waktu terakhir ini, banyak sekali informasi bermunculan pada akhirnya menakut-nakuti masyarakat dan sudah terbesar luas di seluruh media sosial. Banyak juga berbagai macam tulisan yang menyarankan agar masyarakat menghindari vaksin influenza, padahal sedang musimnya. Rasa kekhawatiran yang amat tinggi akan wabah tersebut pada akhirnya dari semua pihak medis mengadakan kampanye untuk meningkatkan kesadaran dan membuka pikiran masyarakat.

Vaksinasi Influenza Dikampanyekan Medis Saudi

Mahasiswa medis Saudi juga melakukan survei untuk mengetahui fenomena yang telah terjadi di tengah-tengah masyarakat. Menurut dari mereka, dari hasil survei yang diperoleh menunjukkan bahwa banyaknya penduduk yang salah paham mengenai tentang vaksinasi influenza.

Ada sekitar 70 persen dari sebanyak 1.640 responden yang tidak tahu keberadaan aplikasi mobile pengingat vaksinasi yang dikeluarkan oleh Kementerian Kesehatan (Kemenkes). Mayoritas partisipan juga menuturkan, bahwa tidak memiliki akses pada informasi yang benar terkait dengan vaksinasi, terutama vaksinasi influenza.

Survei ini dilakukan oleh mahasiswa media yang ada di Ibnu Sina National College for Medical Studies sebanyak 23 mahasiswa. Survei dan kampanye yang telah tergabung dalam tajuk “Be Aware” untuk dapat menyebarkan info pentingnya vaksin.

Tidak hanya di Indonesia saja, kampanye anti-vaksin juga menyerang Arab Saudi. Sebab, banyaknya informasi dan pemberitaan yang berkeliaran, termasuk dalam bentuk video yang menyebutkan bahwa vaksinasi dapat menyebabkan terjadinya autisme.

Para dokter dan Mahasiswa medis menegaskan, bahwa pengklaiman itu hanya mitos dan tidak memiliki bukti ilmiahya. Di kampanye anti-virus juga menerangkan, bahwa di dalam pemberian pengebal tubuh juga bisa komplikasi serius.

Para spesialis kemudian menjelaskan kalaupun ada efek sampingnya, seharusnya hanya sedikit dan sifatnya itu hanya sementara. Untuk lebih jauh, hasil survei menyebutkan bahwa ada 11 persen penduduk yang berhenti memvaksin anak-anak mereka dan 15 persen tidak memberikan vaksin secara tepat waktu.

Walau demikian, ada sebanyak 93 persen responden yang sepakat bahwa vaksinasi itu penting sekali untuk anak-anak. Siswa medis tahun keempat ini yang telah memimpin kampanye “Be Aware” tersebut. Ahmed Elbasiony mengatakan bahwa kesalahpamaham ini merupakan buntut dari rendahnya akses masyarakat pada sumber informasi yang benar.

“Kami akan mengklarifikasi bahwa melakukan vaksinasi itu sangat penting sebab pencegahan itu lebih baik daripada mengobati,” ujarnya.

Adapun seorang ahli mikrobiologi yakni Dr Muazzam Sherif menyampaikan, bahwa vaksinasi itu aman dan dapat menyelamatkan nyawa seseorang, terutama anak-anak. Sebagian besar vaksin yang terus beredar adalah untuk penyakit-penyakit yang mematikan.

Seorang professor yang juga di bidang mikrobiologi medsis dan imunologi yakni Dr Amal Saeed menambahkan, bahwa vaksinasi itu memanglah sangat penting khususnya bagi mereka yang masih anak-anak. Menurut informasi yang diperoleh dari World Health Organization dan Center for Disease Control and Prevention, vaksinasi juga tidak ada hubungannya dengan efek mematikan pasca melakukan vaksinasi.

Di Arab Saudi, tersedia pelayanan gratis untuk melakukan vaksinasi yang tersedia di pusat-pusat kesehatan medis setiap wilayah. Meski seperti itu, masih banyak saja orang yang pergi ke rumah sakit dan klinik swasta. “Hal ini disebabkan karena orang-orang masih banyak yang kurang percaya dan kurang memahami, sehingga rumah sakit seringkali penuh olegh pasien dengan kasus ringan saja,” terangnya.