Laman

Selasa, 12 September 2017

Hadapi Kejang Demam Anak Dengan Tenang

Hadapi kejang demam, Penting bagi kita untuk tetap tenang dalam menghadapi kejang demam pada anak. Meski kejang merupakan satu gejala dari meningitis. Kejang demam ialah salah satu kondisi yang sangat ditakuti orang tua. Dalam situasi seperti ini seringkali dihubung-hubungkan dengan epilepsi dan risiko keterbelakangan mental sebagai efek dari kejam demam tersebut. Kejang demam yang diduga karena kenaikan drastis pada temperatur tubuh yang umumnya disebabkan oleh infeksi dan merupakan sebuah respons khusus dari otak terhadap demam yang biasanya terjadi di hari pertama demam.

Hadapi Kejang Demam Anak Dengan Tenang

Pada umumnya yang sering terjadi pada anak yang kejang demam hingga mengalami kondisi hilang kesadaran disertai dengan berkeringat, tangan dan kaki kejang, demam tinggi, terkadang keluar busa dari mulutnya atau muntah-muntah, keadaan mata terkadang terbalik, setelah reda dia akan terlihat mengantuk dan tertidur. Namun, meski begitu hadapi kejang demam dengan tenang.

Berbagai macam gejala kejang demam pada anak yang beragam, mulai dari yang ringan-ringan saja, seperti menatap dengan melotot, hingga yang berat, seperti tubuh yang bergetar parah atau otot-otot berubah menjadi keras dan kaku. Orang tua harus hadapi kejang demam dengan tenang, jangan panik. Berdasarkan dari durasinya, kejang demam masuk dalam kategori sebagai berikut, dibawah ini:

1.Kejang demam sederhana: pada umumnya yang terjadi, dengan durasi kejang yang beberapa detik hingga kurang dari 15 menit. Kejang yang terjadi pada seluruh bagian tubuh ini tidak akan terulang kembali dalam periode 24 jam.

2.Kejang demaam kompleks: biasanya terjadi lebih dari 15 menit pada salah satu bagian tubuh dan dapat terulang dalam 24 jam.

Secara umumnya sebagian besar kejang demam dialami oleh bayi yang berusia 6 bulan hingga anak yang berumur 5 tahun. Kejang demaam sangat jarang yang dimulai pada anak yang berusia dibawah 6 bulan ataupun setelah umur 3 tahun.

Penyebab timbulnya kejang demam yang sebenarnya belum diketahui dengan jelas. Tapi dari sebagian kasus besar yang terjadi, kejang demam yang berhubungan erat dengan demam tinggi akibat dari infeksi virus flu, infeksi telinga, cacar air atau tonsillitis yang dikenal sebagai radang amandel.

selain itu juga, kejang demam yang terjadi pada anak juga relatif sering terjadi pasca imunisasi. Meski demikian yang terjadi, bukan disebabkan oleh vaksinnya yang menjadi penyebab kejang demam, melainkan karena demam yang dialami oleh anak tersebut. Faktor genetik juga dapat meningkatkan kecenderungan terjadinya kejang demam. Satu dari empat anak yang mengalami hal itu kompleks memiliki riwayat anggota keluarga yang pernah mengalami kondisi yang seperti ini. 

Setelah sudah pernah terjadi sekali, kejang demam ini bisa saja akan terulang kembali, terutama jika terdapat anggota keluarga dekat yang memiliki riwayat demam, kejang demam terjadi pertama kali sebelum anak berusia 1 tahun, anak Anda mengalami kejang padahal suhu tubuhnya saat demam tidak tinggi dan periode antara anak mulai demam dengan waktu kejang demam.

Umumnya pada awal masa demam pada anak, sehingga dapat memberikan obat penurun panas padanya, seperti paracetamol, sanmol atau ibuprofen, hanya bermanfaat membuat anak lebih nyaman dengan suhu tubuh yang tidak terlalu tinggi, tapi juga tidak mencegah akan timbulnya kejang demam itu sendiri.

Hindari anak saat kejang demam dengan pemberian aspirin karena dapat berisiko memicu tejadinya Reye’s syndrome pada sebagian anak dan dapat berujung kematian. Obat lorazepam, diazepam dan clonazepam dapat diresepkan oleh dokter anak Anda jika anak sedang mengalami kejang demam kompleks atau kejang yang berulang.

Bila kejang demam pada anak terjadi untuk kedua kalinya saat Anda belum berada di rumah sakit atau ke dokter:

1.Jangan tahan gerakan kejang pada anak. Namun, letakkan anak di permukaan yang aman seperti pada karpet di lantai.

2.Untuk dapat menghindari tersendak, segera keluarkan jika ada sesuatu di dalam mulutnya saat ia dalam keadaan kejang. Jangan taru obat bentuk apapun pada mulutnya saat anak masih dalam kondisi kejang.

3.Untuk dapat mencegah agar ia tidak menelan muntahnya sendiri (bila terjadi), letakkan ia dengan posisi menyamping, bukan terlentang, dengan salah satu lengan berada di bawah kepala yang huga di tengokkan pada salah satu sisi.

4.Hitunglah durasi kejang demam. Lalu paggil ambulans atau larikan anak ke instalasi gawat darurat (IGD) bila kejang terjadi lebih dari 10 menit.

5.Tetaplah selalu berada dalam dekatnya anak untuk memberikan ketenangan.

6.Pindahkan benda tajam yang ada di sekitar anak saat kejang demam.

7.Longgarkan pakaiannya agar terdapat ruang bebas gerak.

Saat Anda ingin melakukan diagnosis pada anak dari kejang demam, dokter biasanya itu akan melakukan beberapa pemeriksaan sebagai berikut: tes urin, tes darah atau pemeriksaan cairan tulang belakang untu dapat mengetahui apakah terjadi infeksi pada sistem saraf pusat seperti Meningitis.

Dokter bisa saja untuk menyarankan electroencephalogram (EEG) jika pada anak mengalami kejang hanya terjadi pada salah satu sisi tubuh, maka kemungkinan besar dokter akan memberikan rekomendasi pemeriksaan MRI untuk memeriksa otak anak. Bila kejang yang dialami oleh anak dan diiringi dengan infeksi yang cukup serius, apalagi sumber infeksi yang menyerang belum terdeteksi, maka si anak akan diminta untuk beristirahat sementara di rumah sakit untuk melakukan observasi lebih lanjut.

Kejang demam kompleks kerap dihubungkan dengan adanya peningkatan pada risiko epilepsi, juga hubungan dengan kematian yang tidak terjejelaskan pada anak. Tapi, hal ini tidak terbukti. Karena faktanya, sbagian besar yang kejang demam pada anak itu tidak sampai mengalami pengingkatan risiko kematian di masa anak-anak ataupun dewasa.

Dalam kejang demam ini tidak memiliki dampak jangka panjang, menurut sebagian besar kasus yang telah terjadi. Kejang demam sederhana tidak akan menyebabkan kerusakan pada otak, kesulitan dalam belajar ataupun gangguan mental. Selain itu juga, kejang demam juga tidak menjadi indikasi penyakit epilepsi, yakni kecenderungan yang terus berulang akibat sinyal elektrik abnormal dalam otak. jangan ketinggalan info promo umroh  /   promo umroh 2018  /  promo umroh 2019

Segara periksakan anak Anda ke dokter jika dia sedang mengalami kejang demam. Meski hanya beberapa detik saja kejang demamnya. Kejang juga dapat menjadi sebuah tanda dari penyakit yang lebih serius lagi, seperti meningitis. oleh sebab itu, segeralah bawa anak ke rumah sakit.