Laman

Tampilkan postingan dengan label Pada. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pada. Tampilkan semua postingan

Jumat, 24 November 2017

Deteksi Meningitis Pada Bayi

Deteksi meningitis, Walau sebagian mama telah mengetahui arti dari tangisan bayi, akan tetapi bagi Mama yang baru pertama kali memiliki anak seringkali masih merasa bingung saat si kecil selalu menangis, apakah ia sedang merasa kelaparan, mengantuk atau justru sedang merasa sakit. Oleh sebab itu, penting sekali bagi Mama untuk mengetahui arti tangisan bayi. Nah, bila si kecil sedang sakit biasanya ditandai dengan tingkahnya yang di luar kebiasaan. Namun, untuk dapat mencegah kejadian yang tidak diinginkan, sebaiknya Mama harus mengetahui bagaimana cara mendeteksi penyakit yang serius pada bayi  seperti Meningitis untuk segera dilakukan pertolongan.

Deteksi Meningitis Pada Bayi

Deteksi meningitis sejak dini sebab meningitis bukan saja dapat menyerang orang dewasa, akan tetapi pada bayi juga dapat terkena meningitis. meningitis adalah sebutan yang biasa digunakan untuk peradangan pada selaput pelindung saraf otak dan susum tulang belakang yang biasa dikenal dengan meninges. Peradangan tersebut terjadi karena disebabkan oleh infeksi pada cairan yang mengelilingi otak dan sumsum tulang belakang. Meningitis akan terus berkembang sebagai respon terhadap sejumlah penyebab, yang biasanya itu disebabkan oleh bakteri, virus dan mikroorganisme lainnya, tetapi meningitis juga dapat disebabkan juga oleh cidera pada fisik, kanker atau obat-obatan tertentu.

Sedangkan, mengenai tingkat keparahan pada penyakit dan pengobatan untuk meningitis itu berbeda-beda, tergantung dengan penyebabnya, jadi deteksi meningitis pada bayi. Oleh sebab itu, penting sekali untuk mengetahui penyebab meningitis secara spesifik dari meningitis. meningitis yang disebabkan oleh bakteri biasanya itu akan berlangsung parah, meski penyakit ini dapat disembuhkan. Hanya saja, meski dapat disembuhkan meningitis bakteri kerap terlanjur dapat menyebabkan penderitanya itu akan mengalami komplikasi yang cukup serius, seperti kerusakan otak, hilangnya pendengaran atau ketidakmampuan dalam belajar.

Meningitis itu terbagi menjadi dua macam, yaitu meningitis bakterialis dan meningitis virus. Dari situs meningitis.org telah mencatat bahwa meningitis bakterialis itu disebabkan oleh beberapa bakteri seperti Meningcoccal, Pneumococcal, Haemophilus Influenzae B (HIB), Group B Streptococcal (GBS), e. Coli dan Listeria. Sedangkan, untuk meningitis virus itu disebabkan oleh virus yang dapat menyebar dengan melalui udara yang tidak higienis. Dokter Dwi juga telah mengatakan bahwa pada keadaan yang tertentu, misalnya pasien berada dalam daya tahan tubuh yang tidak bagus atau lemah kemudian terkena infeksi di bagian tubuh, seperti telinga, luka dan sinus, infeksi juga dapat menyebar luas hingga ke selaput otak.

Meningitis dapat terjadi ketika infeksi dapat menyebabkan jaringan yang menghubungkan otak dan tulang belakang atau meninges meradang dan membengkak. Gejala pada bayi dan anak-anak antara lain fontanel menonjol, demam, badan kaku, ruam, lemas, napas cepat dan menangis. Jika Anda memiliki dugaan bahwa bayi Anda itu menderita meningitis, segera bawa ke IGD. Jika Anda tidak yakin apakah ia menunjukkan gejala meningitis atau gejala lainnya, segeralah untuk pergi ke IGD.

Mengecek tanda-tanda meningitis pada bayi Anda seperti gejala yang Diawali dengan muntah, demam dan sakit kepala. pada bayi, cara untuk dapat mendeteksi tanda dan gejala meningitis itu agak berbeda sebab bayi tidak dapat mengekspresikan rasa sakit dan merasa tidak nyaman  dengan kata-kata. Gejala yang ditimbulkan itu kadang berkembang cepat antara 3 dan 5 hari sejak infeksi awal. Oleh sebab itu, Anda harus segera membawanya ke dokter.

Periksa dan rabalah kepala bayi Anda untuk mencari tonjolan dan titik lunak yang sedang menegang. Titik lunak yang sedang menonjol biasanya cenderung akan muncul di sisi kepala di sekitar fontanel, yang hal itu merupakan ruang yang terdapat di tengkorak ketika tempurung kepala bayi berkembang.

Lakukanlah pemeriksaan suhu tubuh bayi Anda dengan menggunakan thermometer oral atau rektal untuk memeriksa demam pada anak. Jika suhu bayi antara kisaran 36 dan 38 derajat celcius, kemungkinan ia demam. Untuk bayi dibawah usia 3 bulan, waspadai suhu diatas 38 derajat celcius. Sedangkan, untuk bayi yang usianya itu diatas 3 bulan, waspadai suhu diatas 39 derajat celcius dan jangan sampai bergantung spenuhnya pada suhu tubuh untuk mengetahui apakah Anda harus membawa bayi ke IGD. Bagi bayi yang meningitis dibawah usia 3 bulan biasanya itu tidak akan mengalami demam.

Apabila bayi sedang sakit, ia pasti akan menunjukkan rasa ketidak nyamanannya seperti menangis, mengerang atau bergerak gelisah. Ia juga akan menunjukkan reaksi-reaksi seperti pada saat akan digendong sebab otot dan persendiannya itu sakit dan nyeri. Ia mungkin merasa tenang dalam keadaan diam, tetapi juga akan menangis kencang bila diangkat.

Perhatikan tanda-tanda kaku pada tubuh bayi jika diduga menderita meningitis. periksa dan perhatikan tanda-tanda kaku pada tubuh bayi Anda, khususnya pada lehernya. Bayi mungkin saja tidak dapat untuk menundukkan dagu hingga ke dada dan ia mungkin akan begerak liar dan menyentak-nyentak.

Dan periksalah perubahan pada warna dan ruam kulit bayi. Perhatikan warna kulitnya, pusat atau bebercak atau mulai berwarna kebiru-biruan. Ada juga yang berwarna merah mudah, merah keungu-unguan atau cokelat. Jika tidak yakin dengan apakah bercak-bercak yang terjadi pada kulit bayi, Anda dapat memverifikasinya dengan cara menggunakan tes termos/gelas. Caranya itu dengan menekan lembut gelas minum pada area kulit tersebut. namun, jika kulit bayi yang agak gelap, ruam mungkin saja.

Perhatikan selera makan pada bayi. Mungkin saja ia tidak tampak lapar seperti biasanya. Ia mungkin saja akan menolak jika Anda memberinya makan dan memuntahkan makanan yang ditelannya itu. Selain itu, bayi akan tampak lemas, tidak bertenaga, lelah, selalu tampak mengantuk meski sudah istirahat yang cukup. Biasanya ini terjadi karena infeksi menyebar di seluruh meninges. Amati juga pola napas yang tidak teratur dan rasakan apakah tubuhnya itu dingin atau tidak.

Beritahu segera kepada dokter atau ahli medis jika Anda mencurigai meningitis terjadi pada bayi. Dengan didapati gejala-gejala yang ada diatas tadi. Sebab, bila tidak segera mendapatkan pertolongan dari awal maka nyawa bayi Anda akan kehilangan nyawa dalam waktu cepat. Sebab meningitis merupakan penyakit yang sangat membahayakan keselamatan seseorang. Selain itu juga, memiliki risiko lebih tinggi tertular meningitis, tergantung pada keadaan yang tertentu.

Jumat, 10 November 2017

Penyakit Meningitis Pada Penderita HIV Penyebab AIDS

Meningitis penderita HIV, AIDS adalah salah satu kondisi yang muncul pada kebanyakan infeksi HIV pada stadium paling lanjut. Diperlukan perawatan selama bertahun-tahun sejak terinfeksinya HIV sampai menjadi AIDS. Meskipun pertama hanya kelainan sistem kekebalan, AIDS juga berdampak pada sistem saraf dan dapat mengakibatkan serangkaian besar kelainan pada saraf berat. Virus ini tampaknya tidak menyerang sel saraf secara langsung melainkan dapat membahayakan fungsi dan kesehatan sel saraf. Peradangan yang diakibatkannya itu dapat merusak otak dan saraf tulang belakang sehingga menyebabkan berbagai gejala. Misalnya seperti kebingungan, pelupa, perubahan prilaku, sakit kepala hebat, kelemahan yang berkepanjangan, lengan dan kaki mati rasa dan stroke. Kerusakan pada motor kognitif atau kerusakan saraf perifer juga umum. Dalam penelitian juga menunjukkan bahwa infeksi HIV secara bermakna dapat mengubah struktur otak tertentu yang terlibat dalam proses belajar dan pengelolaan informasi.

Penyakit Meningitis Pada Penderita HIV Penyebab AIDS

Jika terjadi komplikasi sistem saraf yang lain juga dapat muncul akibat dari penyakit atau penggunaan obat untuk mengobati penyakit tersebut, termasuk kejang, nyeri, ruam, masalah saraf tulang belakang, kurang koordinasi, sulit atau nyeri pada saat menelan, cemas yang berlebihan, mengalami depresi, demam, kehilangan penglihatan, kelainan pola berjalan, kerusakan jaringan otak dan koma. Gejala-gejala tersebut mungkin masih dianggap ringan pada stadium awal AIDS akan tetapi dapat berkembang menjadi berat. Seperti penyakit Meningitis penderita HIV.

Kelainan pada sistem saraf masih terkait dengan AIDS ini mungkin secara langsung disebabkan oleh HIV, oleh kanker dan infeksi oportinistik tertentu, penyakit yang disebabkan oleh bakteri, jamur dan virus lain yang tidak akan berdampak pada seseorang dengan sistem kekebalan tubuh yang sehat atau efek dari toksik obat yang dipakai untuk mengobati gejala. Penyakit meningitis penderita HIV juga bisa saja terjadi. Kelainan pada saraf lainnya terkait dengan AIDS yang tidak diketahui penyebabnya, mungkin saja dipengaruhi oleh virus tetapi tidak sebagai penyebab langsung. 

Perlu anda ketahui bahwa meningitis penderita HIV penyebab AIDS. Dapat di lihat dari kasus yang ada sekitar 10% pasien AIDS yang tidak diobati pada seseorang dengan sistem kekebalan tubuhnya sangat tertekan oleh penyakit dan obat. Cryotococal meningitis merupakan infeksi yang cukup serius menyerang otak dan sumsum tulang belakang dan biasanya itu muncul pada seseorang yang terinfeksi HIV, virus penyebab AIDS. Penyakit ini disebabkan oleh jamur Cryptococcus neoformans, yang pada umumnya itu dapat ditemukan pada tanah dan tinja burung. Dimana jamur ini untuk pertama kalinya menyerang paru dan terus menyebar ke otak dan saraf tulang belakang, sehingga menyebabkan terjadinya peradangan. Gejala pada penyakit tersebut seperti kelelahan, demam, sakit kepala hebat, mual, kehilangan ingatan, bingung, pusing dan muntah-muntah. Apabila tidak diobati dengan segera, maka pasien meningitis pada penderita HIV penyebab AIDS dapat jatuh dalam keadaan koma dan meninggal.

Sebenarnya, kebanyakan orang-orang pasti pernah terekspos oleh jamur ini dalam hidupnya. Namun, karena memiliki sistem imun yang sehat pada tubuh maka mampu mencegah jamur ini berkembang menjadi penyakit di dalam tubuh. Ada sekitar 5-7% orang dengan HIV terinfeksi penyakit ini dan ketika sel CD4 yang memiliki fungsi sebagai sistem imun turun sampai dibawah 50, seseorang dengan HIV akan lebih rentan lagi terhadap penyakit ini. Namun, kini sudah tidak terlalu khawatir setelah ditemukannya terapi ARV, beberapa jumlah penderita Crytococal meningitis sudah semakin menurun.

Penyakit ini disebabkan oleh jamur ini sehingga terjadi pembengkakan dan peradangan pada otak. Hal ini yang membuat otak penderita semakin melemah, rusak serta dapat menimbulkan rasa sakit pada kepala. tidak hanya otak saja, jamur ini juga dapat menyerang paru-paru, ginjal, kulit, saluran buang air kecil dan kelenjar limpa.

Rabu, 04 Oktober 2017

Meningitis Pada Anak Pengaruhi Prestasi

Meningitis pengaruhi prestasi, Ada sebuah penelitian, bahwa anak yang terkena penyakit meningitis kemungkinan lebih besar tidak lulus sekolah dan tidak akan menghasilkan banyak uang saat tumbuh dewasa nanti. Pada saat penelitian yang sebelumnya menemukan bahwa penyakit meningitis dapat mempengaruhi kemampuan otak anak dalam waktu yang cukup lama. Sebab, meningitis yang menyebabkan terjadinya peradangan di sekitar otak akan mengakibatkan beberapa jaringan otak menjadi tidak berfungsi dengan baik. Bahkan dapat berakibatkan kecacatan hingga kematian.

Meningitis Pada Anak Pengaruhi Prestasi

Meski begitu, pada penemuan kali ini cukup menarik karena peneliti berhasil melakukan penelusuran keadaan pendidikan dan ekonomi pasien saat dewasa. Meningitis pengaruhi prestasi pada anak.

Ketua peneliti dari Copenhagen University Hospital, Denmark yakni Dr Casper Roed memaparkan, bahwa bagi anak-anak yang terjangkit penyakit meningitis memang masih dapat diselamatkan, meski meningitis pengaruhi prestasi anak. Ini merupakan sebuah berita yang menggembirakan. Namun, kami juga melihat bahwa adanya efek dalam jangka panjang.

Roed dan koleganya melakukan pengamatan dan penelusuran sebanyak 2.800 remaja Denmark yang didiagnosis terkena pneumococcal, meningcocall atau meningitis sudah sejak tahun 1977 hingga 2007. Mereka menggunakan data pendidikan nasional dan data ekonomi untuk dapat membandingkan partisipan dengan anak lain yang berjenis kelamin dan berusia sama namun tidak memiliki penyakit meningitis.

Peneliti menemukan bahwa setelah anak sudah berusia 35 tahun, antara 41 dan 48 persen orang yang mengalami penyakit meningitis pada saat kecil lulus dari sekolah. Dengan angka ini masih dikategorikan rendah jika dibandingkan dengan 52-53 persen yang tidak mengalami meningitis saat masih usia kecil.

Sementara itu, ada sekitar 84-91 persen orang yang pada masa kecilnya sudah terkena meningitis berkecukupan secara ekonomi saat dewasa nanti, dibandingkan dengan 94-95 persen orang yang saat kecilnya tidak mengalami meningitis. 

Menurut penjelasan Roed, hal ini disebabkan oleh efek dari meningitis yang berdampak lama hingga anak-anak tumbuh dewasa. Meski seperti itu, faktor ekonomi keluarga juga dapat menjadi salah satu faktor risiko anak terkena penyakit meningitis.

baca juga : biaya umroh  /   biaya umroh 2018  /  biaya umroh 2019

Sabtu, 23 September 2017

Cukup 3 Gejala Khas Meningitis Pada Bayi

Gejala khas meningitis, Meningitis yaitu penyakit radang selaput otak yang disebabkan oleh infeksi virus dan bakteri. Penyakit meningitis ini dapat menyerang siapa saja, baik pada bayi, anak-anak, remaja, dewasa maupun orang tua. Namun, yang paling sering ditemukan pada kasus penyakit ini adalah dialami oleh bayi. Terutama bayi yang baru lahir. Karena bayi yang baru lahir sangat rentan terkena virus dan bakteri akibat daya tahan tubuh yang belum kuat. Menurut dari Dr. dr. Dwi Putro, Sp, A(K), M. Med., seorang dokter spesialis anak dan konsultan saraf anak di Rumah Sakit Pondok Indah-Pondok Indah, semakin muda usia bayi, maka risiko infeksi yang menyebar pada saraf pusat otaknya akan terus semakin tinggi.

Cukup 3 Gejala Khas Meningitis Pada Bayi

Meningitis merupakan penyakit yang cukup membahayakan dan dapat menular. Meningitis juga terbagi menjadi 2 macam, yakni meningitis bakteralis dan meningitis virus. Menurut dari beberapa catatan yang ada bahwa meningitis bakterialis itu disebabkan oleh beberapa bakteri seperti pneumococcal, meningococcal, Haemophilus influenza B (HiB), Group B Streptococcal (GBS), E. Coli dan Listeria. Sedangkan untuk penyakit meningitis virus itu disebabkan oleh virus yang dapat menyebar dengan melalui udara yang tidak higienis. Adapun 3 gejala khas meningitis.

Dr Dwi memaparkan, bahwa pada keadaan yang tertentu, misalnya terdapat pasien yang berada dalam kondisi daya tahan tubuh yang tidak baik lalu terkena infeksi pada bagian tubuhnya, seperti infeksi pada sinus, telinga dan luka, infeksi itu dapat terus menyebar hingga ke selaput otak dan memiliki gejala khas meningitis.  dapatkan juga info tentang >> biaya haji > biaya haji 2018 > biaya haji 2019

Jelasnya lagi, bahwa ada 3 gejala khas meningitis yang menjadi tanda Si Kecil terserang meningitis. dimana ketiga gejala tersebut adalah demam, kejang dan penurunan kesadaran. Selain dari 3 gejala khas itu, adapun beberapa tanda lainnya yang dicirikanseperti menolak makanan, nada meningitis tinggi, sealu mengantuk dan sulit untuk dibangunkan, nafasnya terasa berat, tangan dan kakinya pun terasa dingin, serta kulitnya itu ada noda, pucat dan agak kebiruan.

Jumat, 22 September 2017

Meningitis Pada Anak Dalam Kandungan

Meningitis pada anak, Meningitis ialah sebuah kondisi pembengkakan pada selaput otak akibat infeksi . dimana pembengkakan selaput otak karena infeksi ini, disebabkan oleh bakteri, jamur, virus atau patogen-patogen lainnya. meningitis pada anak, cukup berbahaya sebab mortalitasnya cukup tinggi hingga mencapai 60% bila sebelumnya si anak tidak pernah mendapatkan vaksin.

Meningitis Pada Anak Dalam Kandungan

Menurut dr Darmadi Darmawan, SpA dari Rumah Sakit Evasari, orang tua harus selalu mewaspadai berbagai gejala dan faktor risikonya sehingga bila ada kasus meningitis pada anak yang ditemukan, dalam penanganan bisa dilakukan secepat mungkin.

Untuk gejala awal meningitis pada anak memiliki tanda-tanda umum yang biasa terjadi yakni demam tinggi, lelah, nafsu makan berkurang, hingga mengalami kejang. Sebagian besar kasus yang pernah terjadi bermula karena infeksi di tempa lain yang menyebar dan pada anak dan biasanya itu berawal dari infeksi pada saluran pernapasan.

Biasanya bakteri itu buat infeksi dulu di tempat masuknya yang kita sebut dengan point of entry. Terus dia mengalir ke aliran darah baru ke otak. Beberapa hari atau sampai beberapa minggu itu tergantung dari kumannya. Mengapa ada anak yang terkena infeksi dapat sembuh dan mengapa ada juga yang kemudian terus berkembang menjadi meningitis yang dipengaruhi oleh beberapa faktor. Pertama dilihat dari sisi anak sendiri yaitu kekebalan tubuhnya, kedua dilihat dari lingkungan dan yang ketiga dari keganasan pathogen yang menyerang.

Pada anak yang imunnya itu masih terganggu karena kurangnya nutrisi, memiliki penyakit lain atau lahir premature maka tubuhnya berkesempatan lebih kecil untuk dapat kuat melawan infeksi. Sedangkan, pada faktor lingkungan, anak yanga tinggal di lingkungan padat atau ditambahi sanitasi yang cukup buruk maka resiko terjadinya infeksi juga akan terus meningkat. Untuk faktor yang ketiga tergantung pada keganasan kumannya itu sendiri.

Ketika ada seorang ibu hamil yang sedang mengandung kemudian terkena infeksi, ada risiko pada anak yang dikandungnya itu bisa ikut terkena. Ini merupakan salah satu kondisi yang perlu diwaspadai yakni meningitis atau infeksi pada selaput otak anak karena memiliki moralitas yang cukup tinggi. Anak di dalam kandungan dapat terkena meningitis secara langsung oleh virus, bakteri dan jamur atau bisa saja terkena paparan cairan vagina saat persalinan.

Anak bila sudah terkena meningitis dari dalam Rahim. Kalau semisalnya si Bunda ada keputihan yang bau, infeksi pada saluran pencernaan, air ketubannya itu berwarna hijau atau pucat lama sebelum persalinan itu bisa ke bayi. info update >> daftar haji > daftar haji 2018 > daftar haji 2019

Ketuban yaitu tembok perlindungan, kalau sudah jebol kuman-kuman akan segera masuk dengan cepat. Bila bayi yang dilahirkan premature sistem imunnya belum terlalu permanen, sehingga bisa berujung kecatatan atau yang terburuknya meninggal dunia. oleh sebab itu, orang tua harus selalu waspada dan rutin dalam melakukan pengecekan kandungan dengan USG, dengan beigtu juga dapar memberi petunjuk dini bila ada masalah pada anak.

Jumat, 28 Juli 2017

Pilek Pada Anak Dapat Berujung Fatal

Pilek Pada Anak, Pilek seringkali menyerang pada anak-anak hingga menimbulkan beberapa penyakit, salah satunya dapat menimbulkan meningitis. Karena sistem imunnya yang masih rendah sekali. Ada beberapa kasus yang terjadi bahkan dapat memicu infeksi pada tenggorokan yang berakibat fatal. Terjadinya infeksi Saluran Pernapasan Atas atau ISPA seringkali diderita oleh anak-anak. Penyakit tersebut sangat mudah sekali menyerang mereka, disebabkan oleh virus dan bakterinya mudah menyebar dengan melalui udara.

Pilek Pada Anak Dapat  Berujung Fatal

"ISPA dapat terjadi penularan dengan melalui udara yang sudah tercemar oleh virus atau bakteri, sehingga bibit penyakit pun masuk kedalam tubuh manusia melalui pernapasan, hal itu yang pada akhirnya pilek pada anak. oleh sebab itu maka penyakit ISPA ini termasuk dalam golongan Air Borne Disease," terang Spesialis Paru yakni dr. Ni Nyoman Priantini SpP.

Penyakit ISPA juga dapat ditularkan dengan melalui air ludah, bersin, darah, udara pernapasan yang mengandung kuman yang terhirup oleh orang yang dalam keadaan sehat masuk ke saluran pernapasannya. Virus dan bakteri penyebar ISPA itu sendiri, sebenarnya mudah saja ditemui. Contonya pilek pada anak. Karena, beberapa penyakit yang ditimbulkan dapat memicu ISPA bila tidak ditangani dengan tepat.

"Misal Adenovirus salah satunya. Adenovirus merupakan virus yang dapat menyebabkan penyakit infeksi pada saluran pernapasan, pencernaan, mata dan lain sebagainya. Ada lebih dari 40 jenis adenovirus yang hingga saat ini diketahui dapat menyebabkan beberapa kondisi kesehatan pada manusia, lebih umumnya berupa pilek. Virus ini dapat memicu gangguan pernapasan. Bila tidak ditangani dengan cepat dan tepat dapat berujung pada bronkitis, dan pneumonia," jelasnya.

Selain itu, ada jenis viru lainnya yakni Rhinovirus seringnya menyebabkan pilek. Tapi pada anak kecil dan orang dengan sistem kekebalan yang masih lemah, pilek yang dianggap biasa-biasa saja dapat berubah menjadi ISPA pada tahap yang cukup serius. Hal ini yang seringkali dianggap sepele oleh para orangtua. cek juga >> biaya umroh  /   biaya umroh 2018  /  biaya umroh 2019

"Ada juga Pneumokokus dapat menyebabkan penyakit meningitis. Bakteri ini juga dapat memicu gangguan pernapasan yang lainnya jika tidak ditangani cepat hingga dapat pengobatan yang tepat, seperti halnya pneumonia. Komplikasi ISPA yang tidak ditangani dengan tepat, pastinya dapat berakibat fatal pada fungsi pernapasan anak," lanjut Priantini.

Sabtu, 01 Juli 2017

Bahaya Sinusitis Pada Anak Bisa Sampai Meningitis

Bahaya sinusitis pada anak, dimana sinusitis merupakan peradangan yang terjadi pada organ sinus. Sinus sendiri yaitu roanga udara yang terdapat di daerah wajah yang langsung terhubung dengan alat pernapasan (hidung). Peradangan yang terjadi pada sinus ini dapat menyebabkan penimbunan lender pada rongga sinus dan menjadi media bagi pertumbuhan bakteri. hal itu terjadi karena pada umumnya merupakan akibat dari meluasnya infeksi pada hidung secara paksa dapat mendorong kuman masuk pada sinus-sinus tersebut.

Bahaya Sinusitis Pada Anak Bisa Sampai Meningitis

Jangan salah kira bahwa tidak hanya terjadi pada orang dewasa saja. Anak-anak pun dapat mengalaminya. Bahaya sinusitis pada anak yang mulai dari usia 5 tahun juga dapat terkena penyakit yang diakibatkan oleh terdapatnya virus, bakteri dan jamur dari influenza yang tak kunjung sembuh. Awalnya mungkin hanya merasakan flu biasa saja. Penyebabnya bisa beraneka macam, bisa karena infeksi virus flu, polusi udara, alergi makanan, debu dan cuaca juga komplikasi dari obat-obatan kimia atau karena kelainan septum hidung.

Sebelum bahaya sinusitis pada anak atau orang-orang di sekitar terjadi, sudah mulai terlihat tanda-tanda mengalami sinusitis tersebut, sebelumnya, untuk mengetahui lebih dalam mengenai hal itu, terlebih dahulu kenali dua jenis sinusitis yang dijelaskan oleh salah seorang dokter spesialis paru pada anak yakni, Dr. Irene Melinda Louis, SpA.

“Perlu diketahui bahwa Ada dua jenis sinusitis pada anak, yaitu rinosinusitis ringan dan rinosinusitis berat. Pertama, mengenai rinosinusitis ringan, jenis ini tidak berbahaya. Akan tetapi, dapat mengganggu kualitas hidup anak,” terangnya.

Adapun yang akan dialami anak jika dirinya terkena sinusitis ringan ini adalah pernafasan pada anak pasti akan menjadi sulit, pola tidur menjadi terganggu dan tingkat nasfu makan akan menurun.

“hal ini pada akhirnya akan berdampak pada aktifitas keseharian mereka (anak-anak yang menderita sinusitis) keseharian, sinusitis juga dapat membuat anak merasakan mual dan muntah-muntah hingga dapat mengakibatkan mereka tidak nafsu makan,” papar Dr Irene. baca juga >> biaya haji > biaya haji 2018 > biaya haji 2019

Sedangkan untuk yang parah yakni rinosinusitis berat, bagi penderita bisa sampai mengalami meningitis atau radang otak. “tapi hal tersebut jarang sekali terjadi. Sebab, begitu merasakan tanda-tanda flu yang tak kunjung sembuh segera bawa anak untuk secepatnya diperiksakan, jangan berlarut-larut tanpa tindakan yang tepat karena koplikasi sinusitis ini dapat mengancam penderita seperti kerusakan indera penciuman, infeksi sinus parah, hingga gejala meningitis,” pungkasnya.

Rabu, 10 Mei 2017

Suntik Meningitis Mulai Dijalani CJH Pada Tahap Kedua Ini

Suntik Meningitis, Dalam Pemeriksaan kesehatan calon jamaah haji (CJH) pada tahap kedua telah dimulai. Puskesmas Sukodono mulai 8 Mei 2017 kemarin dan memperoleh giliran pertama untuk dapat menyelenggarakan pelayanan kesehatan CJH tahap kedua. Dengan jumlah total ada sebanyak 178 orang yang akan mendapatkan suntik meningitis. Suntik meningitis sangat penting dan wajib untuk dilakukan, pasalnya penyakit yang akan ditimbulkan jika tidak lakukan suntik meningitis tersebut akan mengancam keselamatan diri dan mematikan.

Suntik Meningitis Mulai Dijalani CJH Pada Tahap Kedua Ini

Plt Kepala Bidang Pengendalian Penyakit (P2) Dinas Kesehatan (Dinkes) yakni Sidoarjo dr Idong Juanda menyatakan bahwa, pemeriksaan kesehatan CJH tahap kedua ini sebelumnya telah dilaksanakan per wilayah. Awalnya, dinkes yang membagi menjadi delapan wilayah puskesmas. Namun, berdasarkan kesepakatan terakhir yang diberikan, untuk pemeriksaan kesehatan dilakukan di masing-masing puskesmas. ”Tetapi, pelaksanaannya akan digelar secara bertahap. Misalnya hari ini jadwal pertama yang siap adalah Puskesmas Sukodono, sehingga para jamaah juga masih bisa melakukan suntik meningitis bagi yang belum” jelasnya.

Ada sejumlah 198 CJH di wilayah Puskesmas Sukodono. Sebanyak 20 orang di antaranya itu yang gagal berangkat. Adapun penyebabnya, ada yang pindah rumah, cerai, menunda keberangkatan, hingga nama yang sama, tapi dengan  nomor porsi yang berbeda. ”Jadi, totalnya ada 178 CJH yang tahun ini berangkat, suntik meningitis mulai dijalani CJH pada tahap kedua Ini,” ujarnya.

Saat berlangsungnya pemeriksaan kesehatan tahap kedua, seluruh CJH tetap menjalani tes yang mendasar. Mulai melakukan tensi nadi, tes darah yang berindikasi penyakit dalam, hingga tes kehamilan bagi CJH perempuan. Selain itu, seluruh CJH wajib mendapatkan imunisasi meningitis yang diberikan. ”Seluruh CJH wajib diperiksa lebih dalam. Sebab, pemeriksaan kesehatan pada tahap kedua itu bertujuan untuk menentukan apakah CJH istithoah atau tidak,”jelasnya.

Berdasarkan hasil laporan sementara yang diperoleh dari Puskesmas Sukodono, lanjut dia, dari jumlah CJH yang melakukan pemeriksaan kesehatan, tidak banyak yang mengalami masalah kesehatan yang lebih serius. ”Banyak mereka yang muda-muda,” lanjutnya.

Setelah Puskesmas Sukodono melakukan pemeriksaan kesehatan kepada CJH tahap kedua pada awal pekan itu, pada 9 Mei 2017 kemarin merupakan giliran Puskesmas Wonoayu, Krembung dan Kepadangan. Pemeriksaan kesehatan tahap kedua dilaksanakan di masing-masing puskesmas. Sementara itu, puskesmas yang lain telah mempunyai jadwal sendiri untuk melaksanakan tes kesehatan tahap kedua. ”Sebenarnya kami ingin sekali dapat melaksanakan pemeriksaan dengan serentak biar tuntas lebih cepat. Namun, karena adanya perubahan dari per wilayah menjadi per puskesmas, ada juga dari sebagian puskesmas yang belum siap untuk dapat dilakukan dengan serentak,” terangnya.

Idong berharap selama pemeriksaan kesehatan tahap kedua dan tes kebugaran CJH bisa tuntas sebelum datangnya bulan suci Ramadhan. Dengan begitu, pihaknya juga dapat segera menyetorkan data CJH yang masuk dalam kategori istithoah (mampu), istithoah dengan pendampingan, belum istithoah dan tidak istithoah. ”Untuk sekarang masih dalam pemrosesan,” tuturnya.

Agenda Pelaksanaan pemeriksaan kesehatan tahap kedua ini dijadwalkan pada 8–23 Mei 2017. Jika masih ada CJH yang belum juga divaksinasi meningitis, masih ada kesempatan untuk melakukan suntik vaksin meningitis hingga sebulan sebelum keberangkatan ke Tanah Suci. CJH bisa langsung mendatangi puskesmas atau dinkes untuk melakukan vaksinasi meningitis. ”Kalau untuk melakukan pemeriksaan kesehatan tetap dilakukan di puskesmas, dinkes hanya melayani vaksinasinya saja,” paparnya.

Idong juga menambahkan bahwa, hingga saat ini, baru ada 75 persen laporan dari seluruh puskesmas di Sidoarjo yang sudah masuk ke sistem informasi dan komputerisasi haji terpadu (siskohat). Seharusnya dalam pendataan tersebut harus sudah tuntas sejak minggu lalu. Namun, lantaran ada hasil laboratorium CJH yang belum keluar juga, petugas puskesmas belum berhasil dalam meng-entry data. ”Sistemnya memang seperti itu. Harus menunggu hasil pemeriksaan komplet dulu, baru sudah bisa di-entry,” imbuhnya.

Menurut dia, kondisi kesehatan CJH wajib diperiksa secara detail dan lengkap. Sebab, jika memang sudah diketahui bahwa CJH tersebut tidak istithoah, dinkes secara tegas menuliskan catatan tersebut. ”Misalnya, penyakit gagal ginjal yang mengharuskan CJH melakukan hemodialisis(Hd) tentu dianggap tidak istithoah,” katanya.

CJH yang belum istithoah masih dapat melakukan terapi atau diobati sebelum keberangkatan tiba. Penentuan tersebut baru akan diketahui ketika dalam pemeriksaan kesehatan tahap pertama dan kedua tuntas. ”Kami akan memberikan rekomendasi yang akurat dan pasti kepada Kemenag,” tandasnya.



baca selengkapnya:
umroh akhir tahun |  umroh akhir tahun 2018

Jumat, 05 Mei 2017

Tanda-tanda Meningitis Pada Bayi

Tanda-tanda meningitis pada bayi, Meningitis dan septikemia dapat dialami oleh setiap bayi dan ada juga peningkatan risiko untuk bayi yang baru lahir, karena pada sistem kekebalan tubuhnya yang belum sepenuhnya berkembang dengan sempurna. Dengan begitu sebaiknya perlu diperhatikan oleh setiap Ibu akan gejala serius pada penyakit yang dapat menyerang bayi Anda dan memastikan gejala tersebut itu bukan flu biasa.

Tanda-tanda Meningitis Pada Bayi

Meningitis adalah peradangan pada selaput pelindung saraf otak dan tulang belakang yang biasa dikenal sebagai meninges. Peradangan itu terjadi biasanya disebabkan oleh infeksi dari cairan yang mengelilingi otak dan sumsum tulang belakang. Tanda-tanda meningitis pada bayi, Meningitis dapat berkembang cepat sebagai respons terhadap sejumlah penyebab yang ada, biasanya itu karena infeksi bakteri atau virus, tetapi meningitis juga bisa disebabkan karena cedera fisik, kanker atau obat-obatan tertentu.

Sebuah vaksin baru untuk meningitis B yang telah disetujui untuk bayi dari usia dua bulan dan mungkin sudah tersedia sejak September 2015 lalu. Vaksin, obat yang disebut dengan Bexsero sudah tersedia di segala toko kesehatan dan medis dan juga bayi akan divaksinasi pada usia 2 bulan, dengan tindak lanjut saat bayi memasuki usia 4 bulan dan pendukung pada usia 12 bulan. Orang tua khususnya para ibu wajib kenali tanda-tanda meningitis pada bayi Sementara ini Negara Inggris adalah negara yang pertama di dunia yang menerapkan program vaksinasi untuk dapat melindungi bayi dari meningitis.

Tanda-tanda bayi yang mengalami meningitis :
  1. Suhu tubuh tinggi
  2. Kulit pucat berkeringat
  3. Kantuk dan sulit untuk dibangunkanMenolak makan
  4. Muntah
  5. Ubun-ubun tegang
  6. Tampak marah
  7. Menjerit, dan menangis dengan nada suara tinggi
  8. Tangan dan kaki dingin
  9. Ruam berwarna ungu yang tidak kunjung hilang (biasanya hanya muncul ketika bayi mengalami scepticaemia)
  10. Leher kaku dan tidak suka melihat cahaya terang


Tanda-tanda bayi yang mengalami septikemia:
  1. Demam
  2. Muntah
  3. Tangan dan kaki dingin
  4. Peningkatan sistem pernafasan
  5. Ruam

Gejala itu biasanya muncul secara acak dan tidak teratur selama 1 hingga 2 hari atau bisa dalam waktu hitungan jam dan ada kemungkinan juga muncul gejala lain selain yang sudah disebutkan. Jika para Ibu mencurigai gejala atau tanda dari meningitis yang telah diseutkan diatas, segeralah bawa bayi Anda ke rumah sakit agar mendapatkan tindakan lebih lanjut.

Banyak gejala umum lainnya yang terkait dengan meningitis yang muncul ketika penyakit sudah parah. Tindakan medis secara cepat sangat dibutuhkan ketika bayi sudah positif menderita meningitis atau scepticaemia. Dengan begitu, benar-benar dapat menyelamatkan nyawa bayi Anda.

Tumbler Test

Apabila bayi memiliki ruam, gunakan tumbler test untuk dapat memeriksa septikemia pada bayi:

Tekan gelas tumbler pada ruam tersebut. Jika ruam itu tidak menghilang, kemungkinan itu adalah ruam septikemia. Jika ini terjadi, segeralah cari pertolongan medis yang tepat. Bahkan jika Ibu merasa tidak yakin dan merasa ragu atau tidak yakin betul, jangan menunggu.

Pengobatan

Pengobatan yang dilakukan bergantung pada tingkat keparahan yang dialaminya, cepatnya pendeteksian dan kondisi tubuh pada bayi. Beberapa diantara mereka bisa diobati di rumah sakit dengan antibiotik yang kuat dan yang lain mungkin bisa langsung masuk ke tahapan kritis dan membutuhkan perawatan yang intensif. Mengetahui gejala-gejala meningitis dan membawa bayi Ibu ke dokter sesegera mungkin, itu yang penting untuk pengobatannya.


selanjutnya kunjungi:
promo umroh  /   promo umroh 2018  /  promo umroh 2019

Kejang Panas Biasa dan Kejang Meningitis Pada Anak itu Beda

Kejang panas biasa dan kejang meningitis pada anak itu beda, Meningitis penyakit yang sangat membahayakan dan mematikan. Siapa saja bisa mengalami hal tersebut. Karena meningitis yang disebabkan oleh infeksi, maka bisa menular dengan melalui batuk, bersin, gigitan nyamuk dan berciuman. Terutama bila anak-anak yang terserang penyakit flu atau pilek, dapat mengalami demam tinggi yang memicu terjadinya kejang-kejang. Biasanya munculnya gejala tersebut akan mereda dengan sendirinya namun terkadang bisa juga berlangsung lama menetap dan para orang tua disarankan agar ekstra hati-hati terhadap kejang yang seperti itu, jika di alami oleh anak-anaknya.

Kejang Panas Biasa dan Kejang Meningitis Pada Anak itu Beda

Dipaparkan oleh dr Tinuk Agung, SpA, dari Rumah Sakit Anak dan Ibu (RSAB) Harapan Kita bahwa Kejang panas biasa dan kejang meningitis pada anak itu beda, jika terjadinya kejang terhadap anak yang berlangsung lama diperkirakan bisa jadi anak tersebut terkena meningitis. Penyebabnya dikarenakan adanya infeksi kuman pada selaput otak, dimana kalau tidak segera ditangani dengan tepat bisa menyebabkan kematian. "Adanya kuman yang menyebabkan infeksi tersebut memang cukup ganas. Yang lebih sering seperti Haemophilus influenza golongan b atau streptococcus," jelas dr Tinuk.

"Gejala yang dimunculkan itu kejang dan penurunan kesadaran yang cukup lama bukan seperti step biasa. Kalau lagi panas yang kebanyakan masyarakat bilang step itu kejang sebentar terus nangis biasa, nah kalau pada meningitis itu panas kejang terus tidak bangun, Kejang panas biasa dan kejang meningitis pada anak itu beda " papar dr Tinuk.

Bila ada kecurigaan orang tua sangat perlu untuk segera membawa anak untuk mendapatkan pertolongan medis oleh dokter. Dokter akan memberikan obat antibiotik injeksi sambil mendapat perawatan ketat dengan harapan kuman yang menyerang dapat dibunuh dengan cepat sebelum membuat kerusakan yang lebih parah lagi.

Pada kasus infeksi meningitis yang cukup parah, bila anak dapat diselamatkan ada kemungkinan terdapat gejala sisa. Hal ini disebabkan oleh kerusakan yang cukup para dan sudah terlanjur terjadi pada otak anak.

"Kalau misalnya anak tersebut dapat dikatakan sembuh tapi sudah sempat parah tidak sadarkan diri lama itu bisa ada gejala sisa. Contohnya anak jadi kaku-kaku dan pasti akan menimbulkan gangguan terhadap tumbuh kembang serta kecerdasan terhadap anak tersebut," tutup dr Tinuk.


baca artikel selanjutnya :
paket umroh  [  paket umroh 2018  ]  paket umroh 2019