Laman

Tampilkan postingan dengan label Infeksi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Infeksi. Tampilkan semua postingan

Kamis, 26 Oktober 2017

Infeksi Strep A Bisa Sampai ke Meningitis

Infeksi Strep A, Bakteri sangalah berbahaya, streptococcus (strep) masuk dalam kategori jenis bakteri gram positif. Jenis bakteri ini terdapat di berbagai permukaan lingkungan sehingga sangat mudah sekali menyerang siapa saja. selain itu juga, bakteri Stretococcus ini memiliki berbagai macam jenis dan cara untuk dapat menginfeksikan manusia. Infeksi ini dapat terjadi dimulai dari sentuhan, luka terbuka, udara dan cairan tubuh, bahkan sampai saat proses melahirkan penularan pun dapat terjadi.

Infeksi Strap A Bisa Sampai ke Meningitis

Dari berbagai sumber yang telah terangkum salah satunya adalah ulasan dokter Tania Savitri menagatakan, bahwa infeksi bakteri Streptococcus juga dapat terjadi di berbagai organ tubuh, baik itu terdapat dari sistem saluran pernapasan dan pencernaan hingga pada sistem pembuluh darah juga jantung. Infeksi strep A dapat kearah penyakit yang lebih membahayakan lagi. “Pada infeksi Streptococcus itu sendiri dapat dibagi menjadi grup A, B, C dan G. masing-masing grup memiliki ciri-ciri tersendiri yang berkaitan dengan kemampuan menyebabkan infeksi,” ucapnya.

Untuk infeksi bakteri Streptococcus grup A (Strep A) atau infeksi strep A banyak sekali ditemukan pada bagaian permukaaan kulit, di dalam tenggorokan dan berbagai rongga tubuh. Termasuk dengan rongga kelamin dan telinga. Infeksi strep A dapat terjadi kapan dan siapa saja, terutama infeksi ini menyerang pada orang dewasa dan anak-anak.

Strep A dapat menyebar dengan melalui partikel air pada saat orang yang terkena infeksi strep batuk atau bersin. Bakteri ini juga dapat bertahan hidup di permukaan benda-benda tertentu sehingga dapat menular melalui sentuhan saja. Infeksi strep A sifatnya itu masih ringan ataupun invasif. Sifat infeksi yang masih ringan diantaranya adalah:

Radang amandel atau tenggorokan yang ditandai dengan rasa sakit ketika menelan dan pembengkakan pada kelenjar. Infeksi kulit impetigo ditandai dengan adanya rasa perih dan benjolan yang berisi cairan (blister) pada bagian yang luar kulit.

Selulitis, adalah infeksi yang terjadi pada kulit bagian dalam yang ditandai dengan adanya pembengkakan kulit yang berwarna merah disertai dengan rasa sakit dan sensasi panas. Infeksi selulitis dapat berpindah dan menyebar ke kulit bagian atas.

Sinusitis merupakan sebuah infeksi yang terjadi pada rongga kecil di sekitar dahi dan tulang pipi sehingga dapat menyebabkan hidung tersumbat serta rasa nyeri pada bagian wajah. Infeksi telinga terutama terjadi pada rongga udara hingga telinga bagian dalam. Scarlet Fever yakni infeksi bakteri yang dapat menimbulkan ruam dan rasa kasar pada permukaan kulit.

Pada intinya, bahwa Strap A itu mudah terjadi kapan saja ketika seseorang sedang mengalami penurunan daya tahan tubuh. Infeksi minor dari strep A juga dapat dengan mudah untuk disembuhkan tanpa adanya komplikasi dan efek jangka panjang. Meski begitu, pada seseorang yang memiliki daya tahan tubuh yang lemah seperti pada bayi, lansia, orang dengan diabetes maupun pasien kanker dan HIV, maka akan lebih memungkinkan terjadi infeksi strep A invasif yang jauh lebih serius. Misalnya saja seperti penyakit-penyakit berikut ini.

Pneumonia adalah infeksi paru yang memiliki tanda batuk tak kunjung sembuh, sesak napas dan nyeri pada dada. Sepsis adalah infeksi yang terjadi pada peredaran darah yang dapat menyebabkan gangguan kerja jantung, napas yang memburu dan demam.

Meningitis yaitu infeksi yang terjadi akibat bakteri streptococcus yang telah mencapai ke selaput otak dan sumsum tulang belakang. Dimana penyakit ini ditimbulkan dengan muntah-muntah, sakit kepala, ruma dan leher kaku. Toxic shock syndrome (TSS), yakni dengan munculnya gejala syok seperti pusing, diare, pingsan dan mual akibat kuman strep A yang mengeluarkan racun pada aliran darah.

Necrotizing fasciitis ialah infeksi yang terjadi pada kulit bagian dan area yang berdekatan dengan otot (fascia) yang menyebabkan timbulnya rasa nyeri, bengkak dan kemerahan. Infeksi ini juga dapat menyebar dengan cepat. 

Infeksi strep invasif merupakan penyakit yang cukup serius sehingga perlu ada penanganan yang tepat. Pada saat keadaan yang cukup serius ini, satu dari empat orang yang mengalami strep A invasif dapat mengalami kematian.

Rabu, 07 Juni 2017

Cipratan Air Liur Orang Sakit Tingkatkan Risiko Infeksi Meningitis

Cipratan air liur orang sakit, Meningitis merupakan penyakit yang cukup membahayakan bahkan berisiko kematian. Data meningitis yang ada di Indonesia belum ada yang tepat sebab kasus meningitis sering kali disangka sebagai penyakit biasa atau infeksi lain. Meningitis terjadi pada anak dengan tiba-tiba dan menambah angka kematian yang cukup tinggi.Oleh sebab itu, penyakit infeksi yang menyerang dan menyelimuti otak itu jarang disadari oleh para orangtua.

Cipratan Air Liur Orang Sakit Tingkatkan Risiko Infeksi Meningitis

Dijelaskan oleh seorang Dokter Spesialis Anak dari RS Evasari Jakarta yakni dr Darmady Darmawan SpA, meningitis adalah infeksi pada selaput pelindung (meninges) yang menyelimuti otak dan juga saraf tulang belakang. Itu disebabkan karena adanya virus, bakteri dan patogen lainnya, dari semuanya itu bisa keluar dari cipratan air liur orang sakit. Penyakit meningitis ini bisa menyerang siapa saja, lebih rentan menyerang pada anak-anak. Meski gejala awal dari penyakit ini tidak mudah untuk dikenali, namun meningitis ini termasuk jenis penyakit yang harus dengan segera di tangani.

"Banyak cara penularan meningitis yang disebabkan dengan melalui cipratan air liur orang sakit. Kalau dari cipratan air liur itu terkena ke anak dapat menyebarkan bakteri," papar dr Darmady.

Adapun jenis bakteri yang paling sering sekali menyebabkan meningitis yaitu hemofilus influenza B, pneumonia dan juga neiseria meningitis. Untuk sementara itu, proses penularannya sangat cepat. Bagaimanakah prosesnya?

"Pada proses bakteri infeksi kena droplet kumpul menjadi satu lalu masuk ke saluran pernapasan. Dari sanalah bakteri yang menyebar bikin infeksi ke aliran darah dan menuju ke otak," terang dr Darmady.

Untuk selanjutnya, jika sudah seperti itu terjadilah infeksi yang menjadi gejala meningitis pada anak. Dalam Bentuknya itu berupa infeksi pada tenggorokan, infeksi dalam otak, infeksi paru-paru atau sinusitis.

Sebab itu, dilihat dari tingkat fatal meningitis, penyakit ini patut untuk diwaspadai dan tidak boleh dianggap enteng. sebagai Orangtua harus segera mungkin deteksi dini pada anak yang mungkin sedang sakit yang tak kunjung sembuh. Agar Si kecil cepat tertolong dan dapat diatasi dengan tepat.


baca juga selanjutnya:
travel haji  >>  travel haji 2018  >>  travel haji 2019

Rabu, 31 Mei 2017

Infeksi Gigi Picu Sakit Jantung dan Meningitis

Infeksi gigi picu sakit Jantung dan Meningitis, Seringkali dianggap sepele masalah pada daerah gigi dan mulut. Masyarakat kita banyak yang hanya menganggap luka atau infeksi yang terjadi pada gigi sebagai masalah yang biasa-biasa saja, yang akan sembuh dengan sendirinya tanpa pengobatan. Namun, siapa yang menira bahwa berawal dari infeksi di daerah mulut dapat menyebabkan penyakit baru lainnya yang akan timbul seperti jantung, bahkan hingga penyakit meningitis.

Infeksi Gigi Picu Sakit Jantung dan Meningitis

"Infeksi gigi picu sakit jantung dan meningitis. Oleh sebab itu, jika ada masalah yang ada di gigi dan mulut jangan dianggap kecil. Pada mulut dan gigi memang terdapat kuman, namun kumannya tidak bersifat patogen. Mereka sifatnya baru akan menyebabkan penyakit bila sudah memenuhi syarat akan terjadinya infeksi," jelas Mangatas Manalu, yang meruakan seorang dokter ahli penyakit dalam Rumah Sakit Mayapada.

"Selain itu, banyak juga masyarakat yang memiliki masalah pada mulut dan gigi lalu datang ke pihak yang tidak kompeten sehingga infeksi gigi picu sakit jantung dan meningitis. menjadi infeksi berat karena tidak sesuai dengan standar kemudian infeksi tersebut menyebar luas ke organ lain hingga mengharuskan agar dibawa ke Gawat Darurat.”

Itu bukan lelucon. Kisah Mangatas yang pernah menemukan seorang pasien yang terkena infective endocarditis atau radang yag terdapat pada lapisan dalam jantung. Dan ketika diteliti lebih lanjut untuk menemukan, apa penyebab penyakit tersebut, akhirnyapun di temukan keberadaan bakteri yang biasa ada di mulut manusia, bakteri itu bernama Streptococcus viridans, pada jaringan yang meradang.

Untuk penelusuran lebih lanjut, keberadaan bakteri yang terdapat pada mulut tersebut bersumber dari infeksi yang terjadi di sekitar gigi pasien sebelum terjadinya radang pada jantung. Infeksi yang terjadi sudah menyebar luas hingga bakteri kemudian bakteri itu berpindah melalui aliran darah dan menyerang jaringan yang ada di jantung.

Mangatas memaparkan, infeksi dan perpindahan bakteri tersebut memang jarang sekali terjadi. Namun, meskipun seperti itu tidak menutup kemungkinan adanya perpindahan bakteri, terutama bila syarat infeksi terpenuhi, yakni hanya dengan jumlah bakteri yang cukup untuk menginfeksi, adanya migrasi mikroba dari satu organ menuju ke organ lainnya, karena terjadinya kelemahan pada organ, adanya perubahan lingkungan yang mendukung untuk terjadinya infeksi, hingga bakteri yang mutan seperti bertambahnya resistensi bakteri akibat penggunaan antibiotik yang sembarangan.

Jumlah Dokter Gigi di Indonesia Masih Minim

Peluang besar untuk terjadinya infeksi akan semakin besar pada penanganan masalah pada gigi dan mulut bila tidak langsung dilakukan oleh pihak yang berkompeten pada bidangnya, dalam hal tersebut yang terjadi adalah tenaga medis kedokteran gigi. Dan ternyata untuk di Indonesia, dalam penanganan masalah gigi oleh tenaga ahlinya masih tergolong rendah sekali.

Berdasarkan data yang sudah diperoleh dari Kementerian Kesehatan yang dirilis sejak 2014, untuk jumlah seluruh penduduk Indonesia yang mengalami masalah pada gigi dan mulut meningkat dari 23 persen pada 2007 menjadi 26 persen pada 2013 lalu. Adapun kelompok usia yang sangat rentan dengan penyakit gigi dan mulut adalah pada usia lima hingga sembilan tahun, dan usia 45 hingga 54 tahun.

Namun, adanya kenaikan jumlah penduduk di Indonesia dengan masalah gigi ternyata masih memiliki kemampuan yang masih cukup rendah dalam menjangkau tenaga medis yang berkualitas.Hal itu dapat dilihat dari capaian effective medical demand (EMD) yang hanya mencapai 8,1 persen pada 2013. EMD yang merupakan persentase penduduk yang memiliki masalah dengan gigi dan mulut lalu mendapat pelayanan medis dalam 12 bulan terakhir.

"Banyak berbagai macam jenis penyakit yang tiba-tiba muncul akibat dari meluasnya infeksi pada gigi dan mulut, seperti infective endocarditis, yakni radang selaput otak atau meningitis. Kedua penyakit itu pernah ditemukan. Kemudian infeksi dapat pindah ke paru sehingga menyebabkan pneumonia. Atau yang lainnya seperti ke kandung kemih, jantung dan ginjal. Jika terjadi infeksi gigi tidak bisa dianggap remeh," jelas Mangatas.

Perkataan Mangatas tersebut didukung dengan temuan yang dilakukan oleh Rumah Sakit Hasan Sadikin Bandung lalu dipublikasikan dalam Sari Pediatri pada 2013 lalu. Penelitian yang dilakukan tersebut menyebutkan bahwa anak dengan riwayat infeksi gigi memiliki risiko sebanyak 2,7 kali lebih tinggi mengalami Henoch Scholenim Purpura atau HSP dibanding pada anak yang tidak infeksi gigi. Pengertian HSP itu sendriri adalah penyakit peradangan pembuluh darah yang umum diderita oleh anak yang berusia dibawah 10 tahun, dengan memiliki potensi kerusakan ginjal.

Pergeseran Penyakit Akibat Infeksi

Farichah Hanum yang merupakan Ketua Umum Persatuan Dokter Gigi Indonesia atau PDGI mengatakan bahwa telah terjadi pergeseran tren penyakit yang di akibatkan oleh infeksi yang ada di dunia. Pada abad 1900, penyakit infeksi yang terjadi cenderung menular seperti kolera. Namun, sudah memasuki milenium baru ini, untuk penyakit infeksi yang terjadi lebih didominasi karena Penyakit Tidak Menular (PTM) seperti penyakit stroke, jantung, serta diabetes yang dapat menyebabkan kematian hingga 58 persen.

"Masalahnya itu adalah faktor risiko PTM itu ada yang sama dengan penyebab penyakit di rongga mulut. Sehingga bila penanganan infeksi yang berada pada rongga mulut baik, maka risiko PTM yang terjadi secara bersamaan akan berkurang," tutur Farichah.

"Mulut yang merupakan pintu masuk ribuan kuman walaupun tidak menyebabkan penyakit. Tapi untuk rongga mulut ini adalah cermin juga dari tubuh, penyakit yang ada di tubuh dapat dilihat dari mulut,” jelasnya.

Menurut Mangatas, “Beberapa pencegahan akan terjadinya infeksi yang mengerikan dapat dilakukan sejak dini, seperti agar mengurangi konsumsi gula yang tinggi karena gula dapat membuat kondisi mulut menjadi asam dan sangat memudahkan terjadinya infeksi.

Selain itu, dengan meggosok gigi secara teratur sesudah sarapan dan sebelum tidur dengan menggunakan pasta gigi. Kemudian membersihkan gigi dengan cara yang aman, seperti dengan menggunakan dental floss.

Terakhir, Farichah kembali mengingatkan kepada semua pihak untuk selalu rutin mengecek kondisi gigi ke dokter gigi setiap enam bulan sekali dalam rangka pencegahan dan deteksi dini kerusakan gigi dan mulut. Hal tersebut akan bermanfaat guna mencegah penyebaran infeksi menjadi penyakit yang lebih berbahaya lagi. 



informasi lainnya:
umroh plus turki desember  | umroh plus turki desember 2018