Laman

Tampilkan postingan dengan label Sakit. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sakit. Tampilkan semua postingan

Kamis, 02 November 2017

Perbedaan Sakit Kepala Akibat Stroke dan Meningitis

Stroke dan meningitis, Seperti halnya dengan penyakit stroke, penyakit meningitis atau radang yang telah mengenai lapisan selaput pelindung pada jaringan otak dan sumsum tulang belakang juga memiliki gejala yang sangat khas yakni sakit kepala hebat. Namun, meski memiliki kesamaan gejala, sakit kepala akibat stroke dan meningitis sebenarnya memiliki perbedaan yang mudah untuk dikenali. Salah seorang dokter spesialis saraf dari Bethasida Hospitals yakni Puspasari memaparkan, karena merupakan penyakit yang disebabkan oleh virus dan bakteri, merasakan sakit kepala akibat meningitis umumnya itu diawali dengan keluhan fisik seperti demam tinggi dan kaku kuduk atau kaku yang dirasakan pada tengkukan leher.

Perbedaan Sakit Kepala Akibat Stroke dan Meningitis

“Disebabkan karena telah terjadinya peradangan, sakit kepala meningitis yang disarakan biasanya itu diawali dengan gejala yang umum tidak enak badan, seperti flu dan batuk, kemudian mulai demam tinggi. Demam tinggi ini biasanya itu disertai dengan sakit kepala hebat. Ada perbedaan antara sakit kepala akibat stoke dan meningitis,” terangnya.

Sementara itu pada stroke, lanjut dia, sakit kepala hebat biasanya akan muncul secara tiba-tiba saja. namun kebalikannya, sakit kepala yang disebabkan oleh stroke justru tidak disertai dengan demam. Melainkan, setelah serangan biasanya akan disertai oleh gejala yang lainnya, seperti mati rasa pada wajah, tangan, atau kaki, kesulitan dalam berbicara dan memahami pembicaraan, memiliki masalah penglihatan pada satu atau kedua mata, kesulitan untuk berjalan, gangguan saat menelan, hingga pada kehilangan keseimbangan atau koordinasi secara tiba-tiba, itulah perbedaan sakit kepala stroke dan meningitis,” imbuhnya.

Namun, sakit kepala yang merupakan gejala kedua penyakit ini juga ternyata memiliki kesamaan, yakni sama-sama berskala tinggi. “Rasa sakitnya itu mulai dari skala 0 hingga 10. Di skala 1 hingga 6, meski merasa terganggu, tapi penderitanya itu masih tetap bisa untuk melakukan segala aktivitas kesehariannya. Biasanya ini disebabkan oleh migran, vertigo dan kelelahan,” katanya.

Sementara itu, sakit kepala yang merupakan dari gejala stroke dan meningitis, skala rasa sakitnya itu mulai dari 7-10. Bagi penderita yang mengalami dalam kondisi yang seperti ini tidak akan bisa bergerak dan melakukan aktivitas apapun.

Bila mengalami gejala yang seperti itu, Puspa mengingatkan untuk segera meminta pertolongan kepada dokter saraf. Jika gejala meningitis yang tidak segera ditangani dengan tepat dapat menyebabkan berbagai komplikasi yang cukup serius, seperti kerusakan pada otak, gangguan memori, gangguan pada pendengaran, hingga kematian. Sementara pada stroke, penyakit ini juga akan dapat menyebabkan kecacatan hingga kematian.

Sabtu, 14 Oktober 2017

Dikira Sakit Kepala Biasa Ternyata Meningitis

Ternyata meningitis, Ada seorang suster bernama Dianne Woodford saat di identifikasi penyakit, dia mengira penyakit yang dideritannya akan lebih baik dibanding orang lain. Namun, memang tidak ada seorang pun yang sempurna, dikira hanya sakit kepala biasa. Dianne ternyata terkena penyakit meningitis dan sampai kedua matanya tidak dapat melihat (buta). Perkiraan Sembilan tahun yang lalu di tanggal 22 Agustus, Dianne telah terserang oleh bakteri meningitis, bentuk infeksi yang dirasakan parah dan dapat merusak saraf dan otak

Dikira Sakit Kepala Biasa Ternyata Meningitis

Dia mengira selama ini hanya sakit kepala biasa saja, ternyata meningitis. ketidaksukaannya pada cahaya juga dianggap hal yang biasa-biasa saja. namun kenyataannya penyakit itu turut menyerang pada penglihatan ibu dari tiga anak ini.

“Awalnya saya ingat kembali ke rumah usai jam makan siang, tiba-tiba kepala nyeri sekali. Saat itu saya hanya mengira butuh tidur sebentar saja untuk dapat menghilangkan sakit kepala tersebut, tidak pernah berpikir yang macam-macam, hingga pada akhirnya ternyata meningitis yang menyerang saya,” ungkap Dianne.


Selain itu, lanjut dia, saya merasa dari hari ke hari kondisi semakin tidak membaik dan mengira saya terserang flu. Ketiga anak saya bernama Ella, Joe dan Jamie. Jamie yang pada saat itu masih balita, jadi saya harus menidurkannya dan meminum beberapa jumlah obat sebagai penghilang rasa sakit. Lalu, saya berbaring di sofa dan meminta Ella untuk membangunkannya jika Jamie sudah terbangun. Dianne dengan suaminya sudah lama bercerai.

Namun, suatu ketika saat Ella hendak membangunkan ibunya beberapa jam kemudian Dianne malah pingsan. Itu merupakan hal yang mengerikan bagi Ella. setelah itu Ella keluar memanggil tetangganya dan menelpon ambulans. Para medis dengan segera memberikan antibiotik, kemudian membawanya ke Hull Royal Infirmary. 

Dannie mengingat, bahwa pada saat itu dirinya koma selama 24 jam. Setelah melakukan scan otak dan tes fungsi lumbal, dimana cairan tulang belakang diuji untuk mengkonfirmasi dugaan meningitis. Dokter berusaha melakukan semuanya untuk bisa melawan infeksi dalam tubuh Dianne dan berusaha menurunkan radang otaknya.

“Pada keesokan harinya, saat itu saya benar-benar mengerikan, namun masalah yang sebenarnya adalah ketika pada saat membuka kedua mata semuanya terlihat kabur,” terang Dianne.

Dokter menjelaskan kepada Dianne, bahwa bakteri telah bersarang di pembuluh darah halus yang terkait di retina. Pada sistem kekebalan tubuhnya itu telah mencoba untuk membersihkan infeksi, namun telah terjadi peradangan di otaknya dan pendarahan yang merusak secara permanen pada sel-sel di retinanya tersebut. Dan dapat mengoperasi Dianne untuk mencoba menghentikan pendarahan lanjutan. Namun, harapan besar untuk penglihatannya kembali normal sangat minim sekali. 

Meskipun Dianne telah menjalankan 12 operasi, doketr tidak mampu untuk menyelamatkan penglihatan Dianne. Dianne pun mengalami kebutaan. Kesempatan untuk melihat orang-orang terdekat, menikmati berbagai kegiatan, dan hal lainnya sudah tidak bisa lagi dilakukan olehnya.

Setahun setelah penyakitnya itu, Dianne akhirnya memutuskan untuk mendirikan badan amal karena ia merasa bahwa ia ingin memberikan tunanetra lainnya kesempatan untuk tidak hanya bisa bertemu dengan orang lain yang sebayanya saja, melainkan keluar dan ikut menikmati berbagai kegiatan bersama orang-orang. Artinya mereka para tunanetra juga bisa melakukan banyak hal yang bermanfaat seperti berlayar, olah raga memanah dan menembak, mengikuti kelas seni atau hal lainnya.

Lalu, empat tahun kemudian, badan amal yang didirikan oleh Dianne semakin mapan. “Hidup ini banyak macamnya, terkadang sangat menantang, terkadang juga tidak, tapi setidaknya saya kini merasa memiliki kehidupan baru,” tutur Dianne.

Rabu, 05 Juli 2017

5 Jenis Sakit Kepala Termasuk Meningitis

Sakit kepala termasuk meningitis, Sakit kepala  kepala adalah rasa sakit yag muncul tidak terlalu serius dan masih biasa diatasi dengan mudah, seperti hanya dengan minum obat pereda sakit, minum air putih yang cukup dan lebih banyak istirahat. Tapi ada beberapa jenis sakit kepala yang memerlukan penanganan yang lebih karena berkelanjutanatau bahkan ada yang bisa membahayakan dan dapat mengancam jiwa.

5 Jenis Sakit Kepala Termasuk Meningitis

Setiap orang yang ada di dunia ini pasti pernah merasakan sakit kepala, namun yang membedakan adalah jenis sakit kepala dan tingkat rasa sakit yang dirasakan. Sakit kepala termasuk meningitis, itu bisa saja terjadi sakit kepala tidak memiliki jangka waktu yang tertentu, bisa berlangsung kurang dari satu jam atau bahkan selama beberapa hari, serta dapat muncul secara tiba-tiba atau perlahan-lahan.

Meskipun terkadang sakit kepala dapat hilang dengan sendirinya, namun ada juga sakit kepala yang berbeda atau terkadang datang secara konstan, dalam kondisi inilah yang wajib diwaspadai, karena bisa jadi sakit kepala termasuk meningitis, papar Mark Morocco, M.D. dari Los Angeles Medical Centerm University of California, AS. Berikut dibawah ini beberapa jenis kepala yang menandakan ada sesuatu yang cukup serius terjadi di kepala Anda:

1. Thunderclap headache

Jika merasakan sakit kepala hebat terjadi begitu saja secara tiba-tiba, kepala seperti dihajar dengan martil/palu, ini merupakan kondisi yang harus di secepatnya di tanggapi serius kata Dr. Morocco. Hal ini  bisa disebabkan Karena adanya pendarahan pada otak.

2.Sakit kepala Anda semakin meningkat lebih hebat

Jika merasakan sakit kepala yang jauh lebih hebat dari yang biasanya, segeralah periksa ke dokter mengenai kondisi Anda. Hal ini dapat disebabkan oleh aneurisma (pelebaran pembuluh darah abnormal) atau kondisi serius yang lainnya.

3.Sakit kepala yang disertai dengan demam

Sakit kepala yang disertai dengan demam merupakan hal yang tidak boleh dianggap sepele begitu saja. Karena bisa jadi menandakan bahwa terjadinya infeksi pada otak yang biasa dikenal dengan ‘meningitis’ contohnya. Selain itu, infeksi radang otak juga kerap bertanggungjawab atas kondisi ini.

4.Sakit kepala yang disertai rasa sakit pada mata

Jika Anda mengalami sakit pada bagian kepala dan mata, juga diikuti dengan perubahan pada kualitas pengelihatan Anda, ini merupakan kondisi yang harus segera ditangani, menurut Dr. Morocco. Ini adalah ciri dari glaukoma akut dan dapat menyebabkan kebutaan.

5.Rasa sakit pada pelipis

Jika Anda mengalami rasa sakit pada pelipis dengan usia lebih dari 50 tahun dan mengalami rasa sakit ini, maka segeralah kunjungi dokter, terlebih ketika pandangan Anda buram atau diikuti dengan demam. Ini adalah ciri radang pelipis, juga dapat menyebabkan kebutaan.

baca juga : paket haji  <<  paket haji 2018  <<  paket haji 2019

Jumat, 09 Juni 2017

Waspada Meningitis Menjelma Sakit Telinga

Waspada meningitis menjelma sakit telinga, Ada seorang ibu yang dirawat di salah satu Rumah Sakit (RS) dengan keluhan sakit telinga. Namun, pada akhirnya lima hari kemudian ibu tersebut meninggal dunia. Ternyata, ia mengidap penyakit meningitis. Jo Graham namanya, ibu dari tiga anak ini, mendatangi Rumah Sakit Universitas Coventry pada bulan Desember lalu karena ia merasakan sakit di telinganya yang begitu intens sekali. Namun, sangat disayangkan wanita yang berusia 36 tahun ini gagal merespon berbagai pengobatan yang diberikan padanya hingga kemudian ia mengalami koma.

Waspada Meningitis Menjelma Sakit Telinga

“Suaminya, yang bernama Mark, pada akhirnya memutuskan untuk mematikan alat pendukung hidupnya, setelah dokter memberikan pernyataan bahwa tidak ada lagi yang dapat menyelamatkan dirinya,” tulis Daily Mail. Semula, tidak terdeteksi bahwa meningitis menyerang dalam tubuh Jo. Namun, dari pemeriksaan lebih lanjut untuk deteksi penyakit apa sebenarnya yang di derita, ternyata penyakit inilah yang merenggut nyawa istrinya sendiri. Waspada meningitis menjelma sakit telinga.

Meningitis terjadi karena infeksi meninges. Meninges merupakan selaput dinding atau pelindung yang mengelilingi otak dan sumsum tulang belakang. Infeksi ini yang dapat menyebabkan meninges menjadi meradang hingga membengkak dan dapat merusak saraf dan otak. Yang terjadi pada Jo awalnya hanya sakit telinga. Namun, siapa sangka berakhir dengan kematian. Oleh karena itu, waspada meningitis menjelma sakit telinga. Gejala umum yang seringkali muncul adalah demam tinggi, sakit kepala hebat, muntah-muntah, leher terasa kaku, pobia cahaya, napas cepat dan ruam yang tak kunjung reda.

Meningitis memilki dua jenis, yakni meningitis virus dan meningitis bakteri. Meningitis bakteri merupakan yang sangat serius dan meningitis bakteri ini juga harus diperlakukan sebagai keadaan darurat medis. Sementara untuk meningitis virus yang lebih umum terjadi dan lebih mudah untuk dapat disembuhkan. Virus meningitis juga akan sembuh dalam beberapa minggu saja. Namun, meningitis bakteri membutuhkan penanganan serius dengan penggunaan obat antibiotik.  simak selanjutnya >> paket umroh  [  paket umroh 2018  ]  paket umroh 2019

Meningitis juga merupakan penyakit yang sangat sulit untuk dideteksi, sebab datangnya secara tiba-tiba. Dan, seringkali dianggap sebagai flu biasa. Bahkan, dalam kasus Jo ini, meningitis menjelma menjadi sakit telinga (siapa yang menyangka?), yang terlihat penyakit biasa ternyata berakhir kematian. Oleh sebab itu, gejala aneh apapun yang dirasakan pada tubuh seharusnya jangan pernah disepelekan begitu saja, jika tidak ingin menyesal di kemudian hari.

Rabu, 07 Juni 2017

Cipratan Air Liur Orang Sakit Tingkatkan Risiko Infeksi Meningitis

Cipratan air liur orang sakit, Meningitis merupakan penyakit yang cukup membahayakan bahkan berisiko kematian. Data meningitis yang ada di Indonesia belum ada yang tepat sebab kasus meningitis sering kali disangka sebagai penyakit biasa atau infeksi lain. Meningitis terjadi pada anak dengan tiba-tiba dan menambah angka kematian yang cukup tinggi.Oleh sebab itu, penyakit infeksi yang menyerang dan menyelimuti otak itu jarang disadari oleh para orangtua.

Cipratan Air Liur Orang Sakit Tingkatkan Risiko Infeksi Meningitis

Dijelaskan oleh seorang Dokter Spesialis Anak dari RS Evasari Jakarta yakni dr Darmady Darmawan SpA, meningitis adalah infeksi pada selaput pelindung (meninges) yang menyelimuti otak dan juga saraf tulang belakang. Itu disebabkan karena adanya virus, bakteri dan patogen lainnya, dari semuanya itu bisa keluar dari cipratan air liur orang sakit. Penyakit meningitis ini bisa menyerang siapa saja, lebih rentan menyerang pada anak-anak. Meski gejala awal dari penyakit ini tidak mudah untuk dikenali, namun meningitis ini termasuk jenis penyakit yang harus dengan segera di tangani.

"Banyak cara penularan meningitis yang disebabkan dengan melalui cipratan air liur orang sakit. Kalau dari cipratan air liur itu terkena ke anak dapat menyebarkan bakteri," papar dr Darmady.

Adapun jenis bakteri yang paling sering sekali menyebabkan meningitis yaitu hemofilus influenza B, pneumonia dan juga neiseria meningitis. Untuk sementara itu, proses penularannya sangat cepat. Bagaimanakah prosesnya?

"Pada proses bakteri infeksi kena droplet kumpul menjadi satu lalu masuk ke saluran pernapasan. Dari sanalah bakteri yang menyebar bikin infeksi ke aliran darah dan menuju ke otak," terang dr Darmady.

Untuk selanjutnya, jika sudah seperti itu terjadilah infeksi yang menjadi gejala meningitis pada anak. Dalam Bentuknya itu berupa infeksi pada tenggorokan, infeksi dalam otak, infeksi paru-paru atau sinusitis.

Sebab itu, dilihat dari tingkat fatal meningitis, penyakit ini patut untuk diwaspadai dan tidak boleh dianggap enteng. sebagai Orangtua harus segera mungkin deteksi dini pada anak yang mungkin sedang sakit yang tak kunjung sembuh. Agar Si kecil cepat tertolong dan dapat diatasi dengan tepat.


baca juga selanjutnya:
travel haji  >>  travel haji 2018  >>  travel haji 2019

Rabu, 31 Mei 2017

Infeksi Gigi Picu Sakit Jantung dan Meningitis

Infeksi gigi picu sakit Jantung dan Meningitis, Seringkali dianggap sepele masalah pada daerah gigi dan mulut. Masyarakat kita banyak yang hanya menganggap luka atau infeksi yang terjadi pada gigi sebagai masalah yang biasa-biasa saja, yang akan sembuh dengan sendirinya tanpa pengobatan. Namun, siapa yang menira bahwa berawal dari infeksi di daerah mulut dapat menyebabkan penyakit baru lainnya yang akan timbul seperti jantung, bahkan hingga penyakit meningitis.

Infeksi Gigi Picu Sakit Jantung dan Meningitis

"Infeksi gigi picu sakit jantung dan meningitis. Oleh sebab itu, jika ada masalah yang ada di gigi dan mulut jangan dianggap kecil. Pada mulut dan gigi memang terdapat kuman, namun kumannya tidak bersifat patogen. Mereka sifatnya baru akan menyebabkan penyakit bila sudah memenuhi syarat akan terjadinya infeksi," jelas Mangatas Manalu, yang meruakan seorang dokter ahli penyakit dalam Rumah Sakit Mayapada.

"Selain itu, banyak juga masyarakat yang memiliki masalah pada mulut dan gigi lalu datang ke pihak yang tidak kompeten sehingga infeksi gigi picu sakit jantung dan meningitis. menjadi infeksi berat karena tidak sesuai dengan standar kemudian infeksi tersebut menyebar luas ke organ lain hingga mengharuskan agar dibawa ke Gawat Darurat.”

Itu bukan lelucon. Kisah Mangatas yang pernah menemukan seorang pasien yang terkena infective endocarditis atau radang yag terdapat pada lapisan dalam jantung. Dan ketika diteliti lebih lanjut untuk menemukan, apa penyebab penyakit tersebut, akhirnyapun di temukan keberadaan bakteri yang biasa ada di mulut manusia, bakteri itu bernama Streptococcus viridans, pada jaringan yang meradang.

Untuk penelusuran lebih lanjut, keberadaan bakteri yang terdapat pada mulut tersebut bersumber dari infeksi yang terjadi di sekitar gigi pasien sebelum terjadinya radang pada jantung. Infeksi yang terjadi sudah menyebar luas hingga bakteri kemudian bakteri itu berpindah melalui aliran darah dan menyerang jaringan yang ada di jantung.

Mangatas memaparkan, infeksi dan perpindahan bakteri tersebut memang jarang sekali terjadi. Namun, meskipun seperti itu tidak menutup kemungkinan adanya perpindahan bakteri, terutama bila syarat infeksi terpenuhi, yakni hanya dengan jumlah bakteri yang cukup untuk menginfeksi, adanya migrasi mikroba dari satu organ menuju ke organ lainnya, karena terjadinya kelemahan pada organ, adanya perubahan lingkungan yang mendukung untuk terjadinya infeksi, hingga bakteri yang mutan seperti bertambahnya resistensi bakteri akibat penggunaan antibiotik yang sembarangan.

Jumlah Dokter Gigi di Indonesia Masih Minim

Peluang besar untuk terjadinya infeksi akan semakin besar pada penanganan masalah pada gigi dan mulut bila tidak langsung dilakukan oleh pihak yang berkompeten pada bidangnya, dalam hal tersebut yang terjadi adalah tenaga medis kedokteran gigi. Dan ternyata untuk di Indonesia, dalam penanganan masalah gigi oleh tenaga ahlinya masih tergolong rendah sekali.

Berdasarkan data yang sudah diperoleh dari Kementerian Kesehatan yang dirilis sejak 2014, untuk jumlah seluruh penduduk Indonesia yang mengalami masalah pada gigi dan mulut meningkat dari 23 persen pada 2007 menjadi 26 persen pada 2013 lalu. Adapun kelompok usia yang sangat rentan dengan penyakit gigi dan mulut adalah pada usia lima hingga sembilan tahun, dan usia 45 hingga 54 tahun.

Namun, adanya kenaikan jumlah penduduk di Indonesia dengan masalah gigi ternyata masih memiliki kemampuan yang masih cukup rendah dalam menjangkau tenaga medis yang berkualitas.Hal itu dapat dilihat dari capaian effective medical demand (EMD) yang hanya mencapai 8,1 persen pada 2013. EMD yang merupakan persentase penduduk yang memiliki masalah dengan gigi dan mulut lalu mendapat pelayanan medis dalam 12 bulan terakhir.

"Banyak berbagai macam jenis penyakit yang tiba-tiba muncul akibat dari meluasnya infeksi pada gigi dan mulut, seperti infective endocarditis, yakni radang selaput otak atau meningitis. Kedua penyakit itu pernah ditemukan. Kemudian infeksi dapat pindah ke paru sehingga menyebabkan pneumonia. Atau yang lainnya seperti ke kandung kemih, jantung dan ginjal. Jika terjadi infeksi gigi tidak bisa dianggap remeh," jelas Mangatas.

Perkataan Mangatas tersebut didukung dengan temuan yang dilakukan oleh Rumah Sakit Hasan Sadikin Bandung lalu dipublikasikan dalam Sari Pediatri pada 2013 lalu. Penelitian yang dilakukan tersebut menyebutkan bahwa anak dengan riwayat infeksi gigi memiliki risiko sebanyak 2,7 kali lebih tinggi mengalami Henoch Scholenim Purpura atau HSP dibanding pada anak yang tidak infeksi gigi. Pengertian HSP itu sendriri adalah penyakit peradangan pembuluh darah yang umum diderita oleh anak yang berusia dibawah 10 tahun, dengan memiliki potensi kerusakan ginjal.

Pergeseran Penyakit Akibat Infeksi

Farichah Hanum yang merupakan Ketua Umum Persatuan Dokter Gigi Indonesia atau PDGI mengatakan bahwa telah terjadi pergeseran tren penyakit yang di akibatkan oleh infeksi yang ada di dunia. Pada abad 1900, penyakit infeksi yang terjadi cenderung menular seperti kolera. Namun, sudah memasuki milenium baru ini, untuk penyakit infeksi yang terjadi lebih didominasi karena Penyakit Tidak Menular (PTM) seperti penyakit stroke, jantung, serta diabetes yang dapat menyebabkan kematian hingga 58 persen.

"Masalahnya itu adalah faktor risiko PTM itu ada yang sama dengan penyebab penyakit di rongga mulut. Sehingga bila penanganan infeksi yang berada pada rongga mulut baik, maka risiko PTM yang terjadi secara bersamaan akan berkurang," tutur Farichah.

"Mulut yang merupakan pintu masuk ribuan kuman walaupun tidak menyebabkan penyakit. Tapi untuk rongga mulut ini adalah cermin juga dari tubuh, penyakit yang ada di tubuh dapat dilihat dari mulut,” jelasnya.

Menurut Mangatas, “Beberapa pencegahan akan terjadinya infeksi yang mengerikan dapat dilakukan sejak dini, seperti agar mengurangi konsumsi gula yang tinggi karena gula dapat membuat kondisi mulut menjadi asam dan sangat memudahkan terjadinya infeksi.

Selain itu, dengan meggosok gigi secara teratur sesudah sarapan dan sebelum tidur dengan menggunakan pasta gigi. Kemudian membersihkan gigi dengan cara yang aman, seperti dengan menggunakan dental floss.

Terakhir, Farichah kembali mengingatkan kepada semua pihak untuk selalu rutin mengecek kondisi gigi ke dokter gigi setiap enam bulan sekali dalam rangka pencegahan dan deteksi dini kerusakan gigi dan mulut. Hal tersebut akan bermanfaat guna mencegah penyebaran infeksi menjadi penyakit yang lebih berbahaya lagi. 



informasi lainnya:
umroh plus turki desember  | umroh plus turki desember 2018

Kamis, 02 Maret 2017

Tempat Suntik Vaksin Meningitis di Rumah Sakit Pusat Otak Nasional Jakarta Timur

Kantor Kesehatan Pelabuhan (KKP) untuk suntik vaksin meningitis di Rumah Sakit Pusat Otak Nasional Jakarta Timur



Tempat Suntik Vaksin Meningitis di Rumah Sakit Pusat Otak Nasional


Alamat: Jl. MT Haryono Kav. 11, RT 01 / RW 06, Cawang, Kramat Jati, Jakarta Timur, DKI Jakarta 13630
Telepon: (021) 29373377